Spekol : Cerpen


Sebuah Surat Perpisahan

 

 

 

  Dino adalah salah satu cowok yang bisa dikatakan keren,baik,setia kawan,tapi ia adalah seorang pemalu,bukan pemalu untuk bergaul,tapi ia malu untuk mengungkapkan rasa cintanya kepada seorang perempuan yang ia suka yang bernama Gabriela,yang biasa dipanggil dengan nama ‘Ela’.

  Berulang kali ia mencoba untuk menyatakan rasa cintanya kepada Ela,teman-teman Dino yaitu Putra,Waren dan Nehem terus mendukung apa yang ingin dilakukan oleh sahabatnya itu.Mereka berusaha berkata pada Dino untuk segara mengungkapkan perasannya itu kepada Ela.

 Din..bilang saja apa yang ada pada hati kamu kepada si Ela….kata ketiga sahabatnya itu.

 Aku malu untuk mengungkapkannya.Karena aku malu ditolak..balas Dino.

 Siapa tahu kamu diterima’…Kata ketiga sahabatnya membalas apa yang dikatakan oleh Dino.

  Tapi,rasa malu Dino yang besar untuk menyatakan cinta dan rasa takut yang ada pada diri Dino seakan-akan menjadi tembok penghalang bagi Dino untuk melakukan aksinya itu.

   Satu kali ia memiliki kesempatan untuk menyatakan rasa cintanya kepada si cewek idaman,siapa lagi kalu bukan Ela.Waktu itu hujan mendera sang kota tercinta,kabut menutupi jalan-jalan yang ada di kota itu.Rintik-rintik hujan semakin lama semakin banyak berdatangan.Angin yang kencang juga menemani sang hujan membasahi permukaan tanah.

  Dino dan teman-temannya terkurung di sekolah.Menunggu hujan untuk berhenti.Mereka merasa bahwa hanya mereka yang tersisa di sekolah selain sang penjaga sekolah tentunya.Ternyata masih ada satu orang lagi yang berada di sekolah.Dia adalah Ela.Dino pun memiliki kesempatan untuk melakukan aksinya.

  Tapi,rasa malu dan takut kembali lagi berada di benaknya.Malu untuk menyatakan rasa cintanya,dan takut karena jika ditolak.Alhasil,kesempatan itu lagi-lagi sirna karena ada sebuah tembok yang menghalangi untuk menyatakan cinta.

    Saat  itu Dino sedang melamun melihat sepucuk surat yang ada di tangannya.Bukan karena dia dikeluarkan dari sekolah karena sebuah kasus yang dibuatnya.Tapi surat itu berisikan surat keputusan dari kantor kepada Ayahnya,untuk dipindahtugaskan ke sebuah daerah yang dari jauh tempat tinggalnya sekarang.

   ‘Ayah…apa benar kita akan pindah?’….kata Dino kepada ayahnya.

   ‘Ia Dino,kebetulan surat itu baru Ayah dapat dari kantor pagi ini’….jawab ayah Dino.

   ‘Kapan Yah?....Tanya Dino

   Kita akan mulai berkemas sebentar

  Hari itu Dino seakan-akan ingin menangis karena akan berpisah dengan teman-teman yang sudah lama ia kenal itu,tidak lain adalah Putra,Waren dan Nehem.Tapi ia sudah harus pergi bersama dengan orang tuanya.Mungkin ia akan terus mengenang semua pengalaman yang telah ia lalui dengan teman-temannya itu.

  

   ‘Putra,Waren,Nehem aku pergi dulu ya’….kata Dino kepada ketiga teman-temannya itu.

   ‘Ia Dino.Semoga,kelak sudah besar nanti jangan lupa kami ya’…jawab ketiga sahabatnya itu.

   ‘Pasti lah’…Balas Dino.

  Perpisahan itu tidaklah lengkap jika ia tidak pamitan kepada Ela.Cewek yang sangat ia idamkan.Perpisahan dengan Gabriela pasti akan terasa berat untuk Dino.Rasa kangen pasti akan terus menghantuinya.

   ‘Ela…aku pergi dulu ya’…kata Dino kepada Ela.

   ‘Ia Din,jaga dirimu baik-baik ya’…Jawab Ela.

   ‘Ehhh…Ela,ada ingin aku katakan’…kata Dino dengan gugup

    ‘Apa?’...berkata Ela sambil penasaran.

 Aku ini suka sama kamu,sejak dari kita SD dulu.Tapi aku tak dapat menyatakan cintaku ini,Karena aku malu’.kata Dino sambil bangga bahwa ia telah mengalahkan rasa malunya selama ini.

  ‘Aku juga suka sama kamu tapi aku juga malu’…Jawab Ela dengan bahagia tetapi juga bercampur dengan sedih karena kebahagiaan ini harus diakhiri dengan perpisahan yang mendalam.

  Kata-kata yang keluar dari mulut sang wanita idaman membuat hati Dino merasa berbunga-bunga.Perasaan Dino sungguh bahagia mendengar apa yang dikatakan oleh Ela.Tidak ada yang dapat dikatakan lagi oleh Dino,namun kepindahan keluarga Dino membuat mereka harus terpisah untuk jangka waktu yang sangat panjang.

   Sebelum Dino naik ke mobil untuk segera berangkat,Ela memberikan sebuah kalung  yang terlihat seperti belum sempurna adanya.Karena setengah dari buah kalung itu tidak ada.Dino terlihat heran dengan apa yang diberikan oleh Ela.Bentuk buah kalung itu berbentuk sebuah hati,setengah punya Dino dan setengahnya lagi punya Ela.

Din…kalung ini aku kasih kepada-mu,tanda cintaku kepadamu’…kata Ela sambil menangis.

 Makasih Ela’…balas Dino sembari menangis.

 

‘Ketika kamu mencintai seseorang

Beranilah untuk mengatakannya

Bahwa kamu mencintainya…
Dan

Ketika kamu mendapatkan cintamu

Janganlah pernah Lepaskan

Atau kamu akan menyianyiakan kesempatanmu

Untuk mewujudkan masa depanmu.’

                                                 

   

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Buku Sejarah Pikiran & Praktek Pendidikan Agama Kristen - Robert Boehlke Ph.D

Khotbah mengenai 1 Petrus 3 : 13-22

Laporan PPL 2017 - Gereja Anglikan Batam, 'Church of The True Light