Ringkasan Buku Sejarah Pikiran & Praktek Pendidikan Agama Kristen - Robert Boehlke Ph.D
BAB 1
DASAR PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN MASA
KUNO
Gereja
purba bukanlah penemu pendidikan agama: adalah lebih tepat untuk mengatakan
bahwa gereja adalah hasil pendidikan itu. Apa sebab? Sebabnya ialah karena
persekutuan Kristen mengambil dasar agama Yahudi selaku dasar iman Kristen
mereka, yaitu perbuatan yang hebat yang dilaksanakan Allah ditengah-tengah umat
Israel.
A. Pendidikan
Yunani-Romawi
1
.Plato (kira-kira 428-348 s.M.)
Dia berasal dari keluarga bangsawan dan
dalam silsilah nenek moyangnya terdapat nama raja-raja kota Atena dan seorang
anggota dewan perwakilan yang bernama Solon. Sokrates sendiri selalu mengatakan
bahwa ia tidak mengetahui apa-apa,
tetapi ia ingin sekali mencari kebenaran. Apabila mutu keahlian seorang guru
dapat dikenal dari hasilnya dalam diri pada muridnya tentang hubungan
penggunaan persis istilah logos dalam ayat pertama dari inijil Yohanes dan
artinya dalam filsafat Yunani, para sarjana belum sepaham namun pada umunya
diakui ada hubungannya. Istilah Yunani aner
kalos k’agatos, yang berarti manusia yang indah dan berkebajikan.
Orang-orang yang terdidik akan menjadi para pemimpin masyarakat, atau dalam
kata-kata Plato, mereka akan menjadi raja-raja yang mampu berfikir filosofis.
Oleh karena negara memerlukan pemimpin yang sanggup menetapkan dan meneruskan
nilai-nilainya, maka pendidkan dianggap sebagai tangguang jawab negara, tetapi
negara yang dimaksudkan Plato bukanlah yang demokratis.
2
.Aristoteles (384-322 s.M.)
Aristoteles lahir di desa Stagira, negeri Thrakia, yaitu
bagian utama Yunani modern sekarang. Aristoteles
sendiri mendorong murid-muridnya untuk meneliti dunia alam sekitarnya,
menggolongkan keterangan yang diperoleh dari usaha itu dan kemudian menarik
kesimpulan berdasarkan hasil penelitian itu. Menurut Aristoteles, kncinya ialah
“jalan tengah kencana” (golden mean), sebab dalam pengalaman sehari-hari jarang
sekali ditemukan ukuran mutlak tentang perilaku yang tepat dalam semua keadaan.
3. Quintilianes (35-95 M)
Quintilianes memilih
suatu ruang lingkup yang jauh lebih terbatas, yaitu mengajar orang-orang
memperoleh salah satu keterampilan praktis. Quintilianes ingin mencapai dua
hasil sekaligus.Ia mau mengubah masyarakat dengan jalan meningkatkan
keterampilan berpidato. Bakat seorang anak dikembangkan dalam kelompok belajar
, karena disana ia belajar dari kegagalan maupun dari prestasi anak-anak lain.
Di pihak lain, dalam pemikiran Quntilianes terdapat kekurangan yang mencolok
pula. Ia berusaha meningkatkan suatu nilai yang nisbi, yaitu kefasihan berpidato,
menjadi suatu nilai yang mutlak.
BAB
2
PENDIDIKAN
AGAMAWI DALAM PERJANJIAN BARU
Yesus
adalah buah dari pendidikan agama Yahudi dalam arti bahwa hubungan-Nya yang
khusus dengan Bapa-Nya tidak membebaskan-Nya dari keperluan belajar sama
seperti anak laki-laki Yahudi lainnya. Demikianlah Dia belajar melalui pesta
agama-Nya yang berlangsung dalam keluarga-Nya. Kemudian ada kemungkinan besar
bahwa Dia menghadiri sekolah rumah ibadat di Nazaret dan kemudian sekolah Beth
Talmud. Dalam pada itu Dia memperoleh pengetahuan isi Perjanjian Lama dan gaya
menafsirkannya.
Bagi
Yesus sendiri gelar yang amat sesuai dengan pengertianNya ialah rabi, guru.
Dalam seri gambaran tentang kegiatanNya, “mengajar” itu merupakan pelayanan
paling awal yang kemudian disusul dengan “memberitakan Injil” dan “melenyapkan
segala penyakit dan kelemahan”. Sama seperti rabi lainnya. Pelayanan paling
khas “mengajar” itu diberlakukan pula dengan cara Dia disapa oleh baik teman
dan khalayak ramai maupun para lawanNya, yaitu “rabi’. Sebagian gaya
mengajarNya berkaitran erat pula dengan yang lazimnya dimanfaatkan kaum rabi.
Tetapi kekuasaanNya sebagai seorang guru berakar pula dalam identitasNya baik
sebagai pengajaran benar maupun penyataan. Itulah sebabnya mengapa Dia berhak
memanggil orang-orang untuk mengabdikan diri mereka kepadaNya. Dalam gaya
mengajar Yesus paling tidak nampaklah delapan pendekatan: ceramah, bimbingan,
menghafalkan, perwujudan, dialog, studi kasus, perjumpaan dan perbuatan
simbolis.
Tekanan
pada pelayanan mengajar itu diteruskan oleh jemaat-jemaat Perjanjian baru
sebagaimana nampak jelas dalam surat-surat yang paling tua dan yang mendekati
yang paling muda. Paulus memberitakan Injil tetapi dia mengajar pula dan isi
kedua-duanya berakar dalam penyataan yang diterimanya dari Tuhan. Nampaklah
dalam surat-surat Tesalonika empat macam bahan pengajaran, yaitu ajaran
teologis, pengajaran etis, tata gereja, kata-kata yang menyerupai ucapan Yesus.
Ketika
surat-surat Penggembalaan diselidiki dengan saksama, kepentingan pelayanan
mengajar itu diteruskan, bahkan dianggap lebih urgent lagi karena jemaat-jemaat
itu merasa diri dikepung oleh banyak musuh. Demikianlah pengajaran benar
diperlukan agar anggotanya tidak menyeleweng dari kebenaran Injil.
Untuk
menjaga pengajaran benar itu mesti ada guru yang sudah mengetahui kebenaran
tersebut. Dari sekian banyak tugas yang perlu dilaksanakan sang uskup,
pelayanan mengajar menerima tekanan khusus. Ketika isi pengajaran benaritu
diperiksa, maka dapat didaftarkan lima macam isi pokok yang berhubungan erat
dengan yang nampak dalam surat-surat Tesalonika: ajaran teologis, pengajaran
etis, petunjuk-petunjuk mengenai jabatan-jabatan gerejawi, perkataan-perkataan
Yesus dan perlunya bersandar kepada Roh kudus.
BAB 3
PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM GEREJA
PURBA
(Antara Abad
ke-2 dan ke-5)
A .Lingkungan Luasnya
Pada awal abad ke-2 para pemeluk agama Kristen sedikit sekali
jumlahnya, meskipun sudah ada kelompok-kelompok Kristen yang menndiami banyak
kota sekitar daerah laut tengah. Barangkali tidak ada seorang pemimpin Kristen
pada waktu itu yang cukup berani meramalkan bahwa pada akhir abad ke-5 kerajaan
Romawi yang berabad-abad lamanya mahakuasa itu akan runtuh, dan lebih
mengherankan lagi, bahwa jumlah orang Kristen akan banyak. Apabila Luther
mengatakan bahwa Alkitab adalah ayunan tempat yang diletakkan Kristus, maka
kebudayaan Yunani-Romawi yang mengayun-ayunkan ayunan itu.
B .Tantangan budaya terhadap Gereja
Pertama-tama gereja purba itu dihadapkan pada kebudayaan yang
berdewa-dewi banyak, tetapi tidak mampu menarik kesetiaan dari kebanyakan warga
kerajaan Romawi. Kedua, gereja purba itu ditantang untuk mencari jalan
bagaimana memanfaatkan buah intelektual kebudayaaan itu tanpa mengambil ahli
isinya yang bertentangan dengan injil. Ketiga, gereja purba itu ditantang pula
untuk menjernihkan pengakuan imannya ditengah aliran-aliran keagamaan dan
intelektual yang dikenal dalam dunia Yunani-Romawi pada zaman itu. Barangkali
yang paling berpengaruh ialah kumpulan aliran yang bernama Gnostik. Tantangan keempat adalah tuduhan dari kebudayaan Unani-Romawi
yang mengatakan bila orang Kristen tidak bertuhan. Dalam hal ini mereka
mengatakan bila orang Kristen tidak menyembah dewa-dewi yang berwujud patung,
maka dikatakan bila orang Kristen tidak bertuhan.
C . Keprihatinan Gereja terhadap Pelayanan Pendidikan
Usaha
untuk memperoleh suatu gambaran yang jelas dan lengkap tentang keprihatinan
pedagogis gereja purba itu agak sulit, sebab jemaat-jemaat sendiri tidak
mempunyai Komisi Pendidikan Agama Kristen! Demikian pula tidak ada bahan
penerbit Kristen yang mengeluarkan kurikulum tertulis. Menurut Hippolitus bahwa
pengajaran tentang doa merupakan bagian yang mutlak dari pendidikan agama
Kristen.
D .Lima Pendidik Besar
v
Clementus (150-215 M)
Clementus lahir di kota Atena dan meninggal di Palestina.
Gagasan-gagasan pokok dibidang pendidikan agama Kristen yang di jelaskan
Clementus terdapat dalam tiga karya, yaitu, protrepikos
(nasihat yang disampaikan kepada kaum kafir), paidagogos (sang pendidik yaitu Kristus) dan stomateis (bunga rampai).
v
Origenes
Ia mengharumkan nama kota Aleksandria baik sebagai pelajar maupan
sebagai “rector” sekolah katekismus disana. Origenes adalah seorang Kristen.Ia
yakin bahwa kemampuan daya berpikir manusia juga ada terbatas.Itulah sebabnya
mengapa manusia memrlukan penyataan dari Allah melalaui Alkitab Yesus
Kristus.Origenes ingin menolong setiap pelajar menjernihkan pemikirannya.
v
Hieronimus
(345-420)
Nama Hieronimus dikaitkan secara abadi pada Vulgatus, Alkitab dalam bahasa latin yang masih memainkan peranan
penting dalam kehiupan Gerja Katolik Roma. Ia terutama mengajar kaum wanita
Romawi golongan elit. Hieronimus bersedia sekali mengajar mereka. Pandangan
Hieronimus tentang pendidikan bagi anak-anak, khususnya anak perempuan,
diuraikannya secara jelas dalam dua bauh surat yang dikirimnya kepada seorang
ibu, Leta namanya, dan seorang ayah yang bernama Gaundentius.
v
Yohanes
Chrysostomus (347-407)
Pendidik gereja ini lahir pada tahun 347 dikota Antiokhia,
dikemudian hari digelari Chrysostomus,
artinya “mulut kencana” dan “maha guru di dunia”. Ia ditahbiskan dan memulai
panggilannya sebagai pendeta pada tahun 386. Akibat gaya berkhotbah dan isi
khotbahnya, banyak orang yang tertarik pada gereja, baik yang bukan-Kristen
maupun yang telah meninggalkan pengajaran resmi dari gereja.
v
Augustinus
(354-430)
Aurelius Augustinus, seorang teolog yang dihormati, baik oleh
gereja Katolik Roma maupun protestan, lahir di Afrika utara. Augustinus sendiri
rupanya tidak pernah menganggap dirinya sebagai seorang calon imamat Gerjawi. Ia
bermaksud belajar, mengajar dan mengarang, tetapi rencana hidup itu
diubah.bertindak atas izin Uskup Valerius, jemaat di Hippo memanggil Augustinus
menjadi pastornya. Pemikiran Augustinus tentang pendidikan berakar dalam
refleksinya sebagai seorang Kristen atas pendidikan yang ia alami dulu, bidang
filsafat, khususnya Plato dan isteri anugerah Allah yang dinyatakan melaui
Alkitab dan Yesus Kristus. Augustinus mengutamakan bahwa gaya mengajar yang
dipakai seorang guru perlu disesuaikan dengan sifat khas dari setiap pelajar.
E . Tiga
Wadah Pedagogis yang Pokok
v
Jemaat
sebagai Persekutuan yang Beribadah
Pada pokoknya, dimensi pedagogis itu terjadi dalam bagian pertama
dari liturgi, dalam arti jemaat seluruhnya sedang dididik, baik terdiri atas
orang-orangyang sudah disidi maupun para katekumin, yaitu yang berhasrat
diterima sebagai anggota-anggota yang sah.
v
Wadah
katekumenat
Katekumenat itu merupakan jawaban gereja purba untuk menanggulangi
banyaknya orang dewasa yang ingiin mengabdikan diri kepada Kristus. Sekitar
abad ketiga, gereja semakin sadar akan pentingnya pelayanan pedagogis.
v
Wadah
sekolah Katekisasi
Dalam kalam Kristen Indonesia modern, nama sekolah ini condong
menimbulkan kesan yang salah, yaitu sekan-akan ia sama dengan kelas katekisasi
yang lazim terdapat dalam jemaat-jemaat Protestan untuk mempersiapkan calon
anggota resmi persekutuan kristiani.
BAB
4
PENDIDIKAN
AGAMA KRISTEN PADA ABAD PERTENGAHAN
Dari
Abad ke-6 s/d Abad ke 14
Melalui
bab ini kita berusaha menceritakan sejarah perkembangan praktek dan pikiran
pendidikan agama kristen yang berlangsung sebelas abad lamanya tetapi hanya di
Eropa Barat saja. Beberapa puncak prestasi yang menunjukkan bagaimana negitu banyak orang kristen bergumul dengan
tantangan yang amat sulit diatasi. Diantaranya tentang “anak kembar”
ketunaaksaraan dan ketakhayulan, karena itu agak umum dalam masyarakat abad
pertengahan. Keadaannya mengujicoba jiwa banyak pemimpin gereja dan Negara,
namun terdapat prestasi gemilang juga. Gereja sebagai persekutuan menghasilkan
sejumlah pemikiran yang tidak kurang kemampuannya ketimbang tarif kepemimpinan
yang dikenal pada abad-abadnya. Gerja juga berusaha menjangkau sebagian
keanggotaannya dengan pelbagai siasat mengajar. Dalam prosesnya muncullah
beberapa isu pedagogis abad yang masih tetap perlu diperhatikan oleh siapa saja
yang bermaksud memperlengkapi para warga dari semua golongan umur dengan
sumber-sumber iman Kristen, agar mampu hidup menang di tengah-tengah begitu
banyak tantangan hidup.
Para
anggota jemaat-jemaat pada zaman itu kebanyakan tuna aksara dan para pemimpin
yang terdidik entah imam atau awam kurang sekali jumlahnya., gereja mengajar
melalui penggunaan lambang-lambang berupa sakramen Baptisan dan Misa khususnya,
drama agamawi, seni lukis/patung, buku naskah yang berhiasan, dan seni bangunan
yang cenderung mendobrak hati indrawi warga jemaat ketimbang mendorong
perkembangan pengetahuan dan pengertian mereka. isu pedagogis abadi mencakup
ketegangan kreatif antara pemupukan perasaan misteri agamawi dan perkembangan
kogntif dalam diri para warga persekutuan Kristen. Ketegangan ini sangat peka
bagi persekutuan Protestan Indonesia yanga berasal dari suku-suku yang kaya
dengan simbolisme agamawi. Di bawah pengaruh teologi Protestan yang
mengutamakan pentingnya memperoleh pengetahuan serta memahami isinya, peranan
simbolisme cenderung dikesampingkan. Namun di dalam kehidupan iman harus ada
tempat bagi keindahan.
Pada
abad pertengahan gereja mengembangkan sejumlah wadah pedagogis, tempat
pelaksanaan pendidikan agam Kristen : Jemaat itu sendiri khususnya melalui
kabaktian dan system sacramental, sekolah katedral, universitas, kesatriaan dan
wadah pedagogis yang berlangsung dibawah naungan biara. Karena pada zaman itu
jaringan perhubungan terbatas, wadah-wadah pendidikan agama Kristen berasal
dari pelbagai titik geografis dan gerejawi dan bukan dari pusat tertentu,
misalnya kepausan. Mutu pendidikan yang dihasilkan dengan cara demikian tidak
sama tingginya.
Keterlibatan
kita dengan pengalaman Gereja Abad Pertengahan mungkin membuka mata terhadap
sumbangan para pemikir sebagaimana mereka ini diwakili oleh enam orang saja.
Dengan Karel Agung kita diperkenalkan dengan seorang awam berkuasa yang haus
akan pengetahuan. Karena ia tidak merasa puas dengan taraf iman yang sudah
dicapainya. Dia sudah menjadi seorang pelajar teladan sebelum ia menyalurkan
dana, saran dan tenaga Negara dan gereja demi kepentingan perkembangan para
warga Kristen yang terdidik.
Raja
Alfred dari Inggris memahami pentingnya sumber tertulis dalam bahasa daerah
sebagai dasar pendidikan. Ia tidak hanya memanfaatkan dana perbendaharaan
Negara demi rencana darurat menerjemahkan buku-buku Latin ke dalam bahasa
Inggris kuno. Rabanus Maurus dari Jerman mengajukan pertanyaan pokok di bidang
pendidikan agama Kristen berupa pendidikan teologi. Apakah sudah mencakup dalam
pendidikan seorang calon pendeta kalau dia dilatih menjadi “seorang tukang
liturgy dan sakramen saja”, atau sebaliknya pendidikannya perlu mencakup
vak-vak bukan-teologis yang merupakan lingkungan luas tempat tugas berteologi
berlangsung sebelum mempelajari vak-vak teologi?
Abeledrus
mendidik kita tentang kepentingan mengajukan pertanyaan sebagai dasar
memperoleh pengetahuan dan pemahaman baru. Dengan pengalamannya, belum ada
jawaban mutlak sebagaimana nampak perbedaan pendapat di antara bapa-bapa gereja
yang termulia. Thomas Acquino ingin
menolong para mahasiswa memperoleh jawaban yang tidak berdasarkan pendapat
tokoh-tokoh berkuasa melainkan sebagai hasil usaha menjernihkan pemikiran.
Sementara itu diperlihatkannya metode deduktif yang nampak dalam gaya
mengajarnya. Dia juga menghargai peranan penyataan dalam rangka mencari
kebenaran teologis.
Gerson,
seorang pemimpin gereja terkemuka yang mengamalkan keyakinannya bahwa tidak ada
jabatan gerejawi yang lebih tinggi daripada mendidik anak-anak dalam iman
kristen. Berbeda dengan pendapat banyak kawan sekerjanya, pelayanan itu
memperkaya martabat jabatan pelayan Firman dan tidak meremehkannya. Walaupun
para pendidik besar meras diri berhutang kepada prestasi dan pikiran yang
dihasilkan oleh tokoh-tokoh gereja sepanjang abad, namun mereka tak terbelenggu
oleh warisan itu. Mereka rela memprakarsai pendekatan yang berbeda yang mungkin
akan turut memperkaya iman banyak warga seiman.
BAB
5
PENDIDIKAN
AGAMA KRISTEN MENJELANG REFORMASI
Secara nisbi, masyarakat Eropa Barat pada Abad
Pertengahan statis sifatnya.Di dalamnya setiap warga mempunyai tempat yang
tetap karena lahir dalam kelas social tertentu, dan amat sukar baginya keluar
dari kelas tersebut.Di Eropa selatan, khususnya di negeri Portugal, Spanyol dan
Italia, para penjelajah yang amat berani melayarkan kapal-kapal kecil ke
tempat-tempat yang jauh sekali dari tanah air mereka.Lebih penting lagi, mereka
mapu kembali lagi tetapi bukan dengan ufuk pemikiran terbatas seperti
dulu.Mereka telah menjumpai negeri, bangsa dan kebudayaan yang berbeda sekali
ketimbang pengalaman mereka sebelumnya.Dengan kehancuran feodalisme kekuatan
politis semakin mengalir ke dalam tangan pemimpin yang membentuk kerajaan yang
berporoskan bangsa tertentu.dalam prosesnya, khususnya di Portugal, Spanyol.
Kopernikus membuktiakan bahwa
matahari adalah pusat alam semesta dan bukan lagi bumi seperti pikiran dulu.Demikianlah
bumi berputar pada porosnyadan serentak berputar mengelilingi matahari.Sekali
lagi salah satu pengajaran gereja dbuktikan salah.Gerakan humanisme membuka
mata orang-orang terhadap pentingnya memperoleh naskah Perjanjian Lama paling
kuno dalam bahasa Ibrani.
Begitu pula nakah Perjanjian Baru dalam bahasa
Yunani.Demikianlah kekuasaan Alkitab mulai dianggap lebih berwibawa ketimbang
kekuasaan gereja.Diantara ekian banyak orang ternama yang pernah belajar pada
sekolah persaudaraan itu, sumbangan Erasmus dari Rotterdam amat berpengaruh.Dia
merupakan jembatan antara Gerja Katolik Roma dan Gerakan Reformasi.
BAB
6
PENDIDIKAN
AGAMA KRISTEN PADA ZAMAN REFORMASI PROTESTAN
SUMBANGAN
LUTHER
Bagaimanakah kita niali sumbangan
Luther terhadap perkembangan pendidikan agama Kristen? Paling tidak terdapat 10
pokok yang bermakna:
v Dia mengaitkan
pendidikan dengan teologi atau dengan kata lain, teologi merupakan dasar teori
pendidikannya.
v Prestasi menerjemahkan
Alkitab ke dalam bahasa Jerman turut mengembangkan bahasa Jerman sehingga semua
warga Jerman dihubungkan satu sama lain. Serentak dengan itu, bahasa Jerman
memainkan peran luar biasa dalam perkembangan pendidikan Jerman.
v Dia melihat bahwa semua
orang, baik anak perempuan maupun anak laki-laki, baik yang muda maupun yang
dewasa berhak belajar membaca dan menulis sebagai dasar menjadi orang percaya
yang terdidik sehingga “…… bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh
rupa-rupa angin pengajaran…..” (Ef 4:14a). Khusus bagi warga dewasa khotbah
dikembangkan menjadi wadah paling utama untuk pendidikan.
v Dia mendorong para
pemimpin kota praja sehingga didirikannya sekolah-sekolah “negeri” yang
dibiayai kas pemerintah setempat. Semua anak wajib disekolahkan.
v Luther menyusun bahan
pendidikan khusus untuk anak didik, yaitu Katekimus Kecil yang disayanginya.
Karya itu memupuk penyusunan banyak katekisimus lainnya sebagai bahan tercetak
paling utama dalam mendidik kaum muda. Dari sudut kita, kurikulum yang dipakai
di sekolah tidak sesuai dengan kebutuhan anak didik, tetapi di dalamnya
terdapat pendekatan lebih berimbang ketimbang kurikulum lain yang dianggap
mutlak pada zaman itu.
v Dia amat prihatin
terhadap perbedaan sifat setiap anak, suatu fakta yang perlu dipertimbangkan
sebagai dasar mengembangkan tugas-tugas belajar yang sesuai.
v Sungguhpun gaya
mengajarnya jauh lebih dari sempurna, namun ia cenderung lebih maju ketimbang
pendekatan yang dominan diantara kebanyakan pendidik sezamannya.
v Luther menitikberatkan
peranan mutlak music dalam proses mendidik orang-orang disamping menjadi unsure
umum dalam liturgy. Dengan demikian warga jemaat adalah peserta aktif dan bukan
pasif.
v Luther amat sadar akan
kemungkinan-kemungkinan yang tersirat dalam pengalaman pendidikan, dengan
akibat warga Kristen tidak berhak bertumbuh dalam iman Kristen sehingga
dihayati dalam kehidupan sehari-hari.
v Luther mendesak warga
Jerman menghargai pentingnya perpustakaan-perpustakaan sebagai alat pelengkap
mutlak dalam rangka mengembangkan sumber pengetahuan dan pengertian demi
kebutuhan perseorangan, gereja, masyarakat dan Negara.
BAB
7
PENDIDIKAN
AGAMA KRISTEN PADA ZAMAN REFORMASI PROTESTAN
SUMBANGAN
CALVIN
Apabila
dipandang secara menyeluruh, secara singkat sumbangan apakah yang dibrikan
Calvin bagi dasar dan praktek pendidikan agama Kristen?
Apabila
dipandang sacara menyeluruh, secara singkat sumbangan apakah yang diberikan
Calvin bagi dasar dan praktek pendidikan agama Kristen.
1.
Kehidupannya
adalah teladan bagi siapa saja, tentang seorang Kristen yang mengasihi Tuhan
dengan segenap pikrannya.
2. Dia ingin mendidik pikiran insane karena
tidak mempercayai perasaannya yang kurang mantap.
3. Melalui institutionya dia menjelaskan isi
iman Kristen secara teratur sebagaimana didapatinya dalam Alkitab.
4. Intinya adalah pengetahuan minimal yang
peru diketahui dan dipahami olehh setiap warga Kristen.
5. Walaupun dia tidak mempercayai perasaan
insane sebagai bukti kedalaman iman.
6. Melalui pengajarannya mereka dididik agar
tidak memperhatikan keadaan jiwanya secara pribadi saja.
7. Pendidikan agama Kristen adalah bagian
integral dari pelayanan gereja.
8. Dia menjunjung tinggi khotbah sebagai
saran untuk mendidik para warga jemaat.
9. Dia mempersiapkan katekismus Khususnya
untuk mendidik kaum muda.
10. Dia mendidik jemaat memuji Tuhan
11. Dia menetapkan sakramen Baptisan sebagai
tanda pemilihan Tuhandalam Yesus Kristus.
12. Untuk menyokong lebih luas identitas
gereja sebagai paguyuban orang yang terdidik.
13. Pada akhirnya dia mendidik para warga,
bahwa mereka bukanlah kepunyaan mereka sendiri melainkan merekalah milik Tuhan
semesta alam.
BAB
8
IGNATIUS
LOYOLA, PENDIDIK JALAN KEHIDUPAN SUCI
Pada awal kehidupannya Ignatius
Loyola menerima pendidikan militer, tetapi sebagai akibat menderita patah kaki
kiri yang dialaminya selama pertempuran dengan Perancis, dia mengganti pokok
kesetiaan pengajarannya. Sementara itu minatnya bukan lagi pada cerita-cerita
tentang prestasi pahlawan militer dan penyelamatan perempuan cantik dari
bahaya, melainkan keprihatinan-keprihatinan ilahi saja. Dia bernazar
mengabidkan diri seluruhnya pada pelayan Yesus Kristus melalui gereja-Nya.
Dengan hidup bertapa di gua dekat
desa Manressa, Loyola dididik Tuhan melalui banyak penglihatan yang mengesankan
“…..sehingga segala sesuatu yang diterimanya dari Allah sampai ke umur enam
puluh dua tahun pun tidak setara dengan apa yang diterimanya waktu itu.” Disana
juga masa depannya semakin jelas. Dia ingin bepergian ke tanah Suci untuk
memberitakan Injil kepada kaum Islam.
Tetapi setibanya di sana, dia tidak hanya dilarang melaksanakan pelayanan
tersebut, dia disuruh pulang lagi ke tanah airnya. Pada dasa warsa ketiga
kehidupannya, dia kembali lagi ke bangku sekolah untuk mempelajari bahasa Latin
sebagai persiapan menjadi seorang imam.
Kemudian di Universitas Paris,
bersama-sama dengan delapan mahasiswa lainnya ia sepakat dalam maksud
menawarkan tenaga mereka dengan tanpa syarat kepada sang Paus. Keputusan itu
kemudian dijernihkan sampai mereka ingin mendirikan tarekat baru, yaitu Kompi Yesus,
dengan tiga maksud khusus: mendidik kaum muda, memberitakan Injil kepada
orang-orang yang belum mendengar dan untuk melaksanakan perintah apapun dari
Paus dan di tempat manapun. Pada tanggal 27 September 1540, Ordo Kompi Yesus
itu diresmikan ole Paus Paulus III. Kemudian ordo itu dikenal dengan nama
“Yesuit”.
Terdapat tiga hal yang mendasari
pokok pandangannya secara umum dan khususnya untuk pendidikan agama Kristen,
yaitu militernya dulu, pengalaman kebatinan Injili dan sumber iman Kristen,
khususnya gereja sendiri.
Dari pengalaman militernya dia
belajar tentang kepentingan membentuk kesatuan “serdadu” Kristus yang
berdisiplin dalam kehidupan pribadi dan yang rela menaati perintah apapun dari
sang atasan. Berdasarkan penglihatannya, khususnya di gua dekat Manressa yang
diteruskan sepanjang hidupnya, dia yakin bahwa dia mengenal ketiga oknum dari
Trinitas dan Bunda Maria secara langsung dan bukan dari isi buku apapun. Dalam
prosesnya dikembangkanlah perasaan setia kepada gereja melaui strukturnya, berupa
bawahan dan atasan.
Berdasarkan isi sejumlah
tulisannya, tujuan pendidikan agama Kristen dapatt dirumuskan dengan kata
berikut: “Untuk melibatkan para warga muda khususnya dalam latihan-latihan
rohani dan intelektual, yang memupuk kehidupan batiniah dan kognitif, untuk
membimbing mereka mengambil bagian dalam kebaktian gereja sehingga rela menaati
setiap perintah-Nya dengan dampak yang luas dalam urusan-urusan masyarakat
sampai akhirnya mereka memenuhi alasan terakhir mengapa mereka diciptakan Allah”.
Wadah pendidikan yang pokok ialah
Sekolah menengah Pertama/Atas dan Perguruan tinggi. Dengan system persekolahan
yang dikembangkan Ordo Kompi Yesus itu pendidikan dipandang secara utuh. Semua
vak yang dipelajari para pelajar dan suasana hidup mereka serta pengajar
dipersatu-padukan agar semuanya digembleng (dibiasakan) menjadi korps terdidik
yang ingin melaksanakan maksud-maksud Gereja Katolik Roma. Tinggi sekali mutu
pendidikannya. Ongkos persekolahan dipikul oleh para dermawan dan bukan oleh
para pelajar. Para pengajar sendiri dilarang menerima honorarium dari siapapun,
tetapi semua keperluan hidup dibayar oleh kas ordo.
Sebagai pengajar utamanya diakui
sebagai Tuhan sendiri, tetapi Dia bekerja melalui pengajar dengan status baik
awam maupun iman. Persiapan mereka ketat dan diharapkan pula supaya mereka
bertumbuh terus secara intelektuan dan rohani. Mereka hendaknya waspada
terhadap pendekatan lain dari sumber manapun juga yang dapat diterapkan demi
maksud mereka.
Para pelajarnya, siswa laki-laki
yang berumur empat belas sampai dua puluh tiga tahun. Jadi, Ordo Yesuit tidak
bermaksud mendidik anak didik taraf Sekolah Dasar. Tamatan Unviersitas Yesuit
memperoleh gelar Magister Artes dan Doktor Teologi.
Kurikulumnya berporos pada bahasa,
khususnya Latin, Yunani, dan Ibrani. Vak lain lagi adalah yang lazimnya dikenal
pada sekolah sezaman itu. “tetapi untuk memperoleh pengertian tentang isi
kurikulum khas sekolah Yesuit, harus kita lihat dalam latihan rohani bagi
setiap pelajar dan dalam lingkungan luas kehidupannya yang ditentukan para
pemimpin dan para pengajar.” Sebenarnya kurikulumnya ialah lingkungan luas
berdisiplin rohani. Demikianlah para pelajar belajar hidup sebagi seorang
Kristen dengan gaya hidup sebagai seorang Kristen sebagaimana ditentukan oleh Ordo
Yesuit.
Pada umumnya metodologi mengajar
yang berlaku di sekolah Yesuit agak serupa dengan sekolah-sekolah lainnya juga.
Terdapat ceramah/kuliah, banyak penghafalan, pertandingan antara kelompok dalam
kelas dan perdebatan antara dua orang pelajar. Refleksi bebas atas isi
pelajarannya tidak digiatkan. Tetapi terdapat dua metodologi khas Yesuit yang
mencap semua tamatan sekolahnya.
Latihan rohani yang dikembangkan
Loyola dari pengalamannya cenderung menanamkan dalam diri pelajar, hasrat
mendalam untuk melayani maksud Kristus sebagaimana ditentukan oleh Gerja.
Latihannya terdiri atas doa, keterbukaan terhadap munculnya citra-citra yang
berporoskan Alkitab dalam kesadaran, pembicaraan dengan Tuhan dan keputusan
untuk mewujudkan dalam dirinya satu/dua unsure dari keseluruhannya. Jadi, para
pelajar Yesuit tidak hanya belajar tentang isi Alkitab secara kognitif saja,
malahan mereka turut terlibat dalam peritiwa-peristiwa alkitabiah mealui proses
pencintraan, yakni citra-citra yang dibiarkan muncul secara bebas dalam pikiran
tentang pokok perhatian pada hari itu, menurut seri langkah yang direncanakan
pembimbing berdasarkan karya Loyola.
Meteodologi kedua merupakan latihan
dalam belajar menaati kehendak si atasan sehingga si pelajar dapat
memperthankan perintah apapun, dan menganggap si atasan yang memberikan
perintah itu sama dengan Kristus sendiri.
Pada zamannya, kaum Yesuit sendiri
dan para tamatan sekolah Ordo Kompi Yesus itu menjadi alat ampuh dalam tangan
Paus untuk mengalahkan kemajuan gerakan Reformasi Protestan khususnya di negeri
Polandia dan Ceko, walaupun harus dibayar dengan mahal sekali dalam penderitaan
para warga kedua negeri tersebut. Antara lain, Perang selama tiga puluh tahun
di Eropa Tengah adalah akibat usaha kekuatan Katolik untuk memperoleh kembali
negeri yang sudah memeluk iman Protestan. Unsure pribadi dari perang tersebut
akan terasa dalam kehidupan bangsa Ceko dan uskup terakhir Persaudaraan
Moravia.
Namun dari segi sejarah pendidikan
aagama Kristen, prestasi Loyola dan ordonya adalah contoh tentang pendidikan
yang dihasilkan oleh kemauan, tenaga, sarana dan dana yang sungguh-sungguh
dimuarakan pada maksud tersebut.
Comments
Post a Comment