Khotbah mengenai 1 Petrus 3 : 13-22

1 Petrus 3 : 13-22
Syalom!
Dalam kehidupan bersosial, berinteraksi dengan orang lain adalah hal yang wajar dan perlu aksi dalam hal yang positif memungkinkan kita akan untuk tumbuh dalam keadaan yang positif pula dan sebaliknya. Salah satu hasil dari interaksi yang positif ini adalah Saling Membangun. Membangun, menunjuk pada ; membantu, menyusun, membuat dsb. Dalam hal ini juga termasuk membangun karakter. Membangun karakter adalah suatu hal yang tidak mudah dilakukan. Melalui kerelaan hati, pengorbanan dan sikap mau menerima, merupakan hal-hal yang pasti akan dilalui dalam membangun karakter, khusunya karakter Kristiani. Menderita bukanlah hal yang diingikan oleh setiap orang. Menderita bukanlah sesuatu keadaan yang ada dalam situasi menyenangkan atau nyaman. Bukanlah sesuatu yang mengenakkan. Orang selalu berusaha menghindarinya. Ketika sakit misalnya, orang pasti berusaha untuk mengatasinya berapa pun biayanya. Agaknya dalam pandangan umum, penderitaan adalah musuh kehidupan. Orang menderita dipandang tertimpa nasib sial, atau tertimpa hukuman, atau karena dosa dsb.
Siap Menderita sebagai kunci bekerja dalam ketaatan yang menghilkan sesuatu yang berkualitas, terutama membangun iman orang percaya agar tidak mudah outus asa, masa bodoh dan hilang pengharapan sekalipun kehidupan orang percaya mengahadapi tekanan hidup. Gereja dipanggil untuk menderita dalam arti taat dan setia kepada Allah bahkan di tengah lingkungan yang memusuhinya, supaya melalui ketaatan dan kesetiaannya itu Allah menyempurnakan tujuan-Nya. Dalam pemahaman inilah penderitaan dikaitkan dengan kesaksian gereja.

Dalam surat Pertrus ini ditunjukkan kepada ‘umat pilihan Allah’ yakni orang-orang pendatang yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia kecil dan Batinia. Dengan tujuan untuk menguatkaniman mereka  yang sedang mengalami penganiayaan dan tekanan karena percaya kepada Kristus. Pada waktu itu orang yang menjadi Kristen dianggap orang asing, karena mereka tidak mau bergabung dalam penyembahan-penyembahan berhala, sehingga mereka dikucilkan dari masyarakat. Banyak pengikut Kristen abad pertama menderita dan disiksa serta dianiaya karena mempercayai dan menaati Yesus. Bermula dari di Yerusalem oleh tangan saudara-saudara mereka sesama Yahudi, penganiayaan menyebar ke bagian lain di mana pun orang-orang Kristen berkumpul. Petrus sendiri mengalami penganiayaan. Dipukul dan dipenjarakan, ia sering diancam, dan tidak ada yang bisa menggoyahkan keyakinannya kepada Tuhannya. Karena itu Petrus menulis kepada jemaat yang terserak dan menderita karena iman, untuk memberikan penghiburan dan pengharapan, dan untuk menolong mereka agar tetap setia kepada Kristus.
Surat ini adalah kabar baik tentang Yesus Kristus yang merupakan jaminan harapan mereka. Sebab Yesus Kristus sekalipun mengalami kematian, namun hidup kembali dan berjanji akan datang lagi untuk memberi kehidupan yang sesungguhnya. Atas dasar itu mereka hendaknya rela dan tahan menderita, sambil menyadari bahwa penderitaan mereka di satu sisi merupakan ujian iman untuk tetap bertahan dalam membangun hidup sekalipun mengalami kesulitan. Dan pada sisi lain menderita dengan sabar dipahami akan memiliki upah, bahwa mereka akan dibalas oleh Tuhan pada saat Yesus Kristus kembali.
                Petrus meminta suatu penghormatan batiniah dan pengabdian kepada Kristus sebagai Tuhan yang selalu siap-sedia untuk berbicara bagi-Nya dan menjelaskan Injil kepada orang lain. Pertanggung jawaban setiap umat Kristen yang setia walau menderita, tetapi memiliki Roh yang membebaskan yaitu kuasa Kristus dan kematian-Nya menuju pada kebangkitan-Nya. Dengan kata lain kita belajar untuk melanyani Kristus, kita ditantang untuk bekerja di ladangnya. Mengabdi dengan cara memberitakan Injil, memberi diri untuk melayani sekalipun berada dalam tantangan dan pencobaan. Melayani dengan hati yang tulus sehingga misi membangun hidup yang memiliki kesabaran akan membangun iman yang tidak takut dan gentar sekalipun ancaman dan tantangan dan ancaman yang sangat berat. Disamping itu “kerelaan membangun hidup walau dicerca dan difitnah adalah gambaran Kristus yang mati akibat dosa manusia. Artinya pengorbanan iman orang percaya sebagai ujian yang harus ditaati dengan lemah lembut dan hormat.
                Petrus mengangkat cerita mengenai Nuh dan keluarganya. Dahulu Allah menyelamatkan Nuh bersama keluarganya dari air bah. Sekarang umat Allah yang baru, yaitu orang-orang yang mengimani Kristus, diselamatkan dengan pembaptisan. Air baptisan mengingatkan jemaat akan karya penyelamatan Allah. Keselamatan dari Allah adalah keselamatan universal yang berlaku setiap saat dalam keadaan apapun bagi mereka yang percaya dan mau mengakui-Nya serta mematuhi perintah-Nya.
                Petrus berkata bahwa berbuat baik memang berdampak baik bagi kita dan dapat menghindarkan kita dari berbagai damapk yang muncul apabila kita berlakutidak baik. Namun tidak semua hal bisa dihindarkan meskipun kita telah berlaku baik. Ada kalanya kita akan mengalami penderitaan justru karena kita memilih untuk tetap berdiri tegak di atas kebenaran. Bagi Petrus, penderitaan yang harus dialami karena orang berbuat jahat. Menderita karena kebenaran adalah sebuah berkat. Sukacita tidak serta merta terhenti karena penderitaan karena kebenaran harus dialami. Sukacita yang dimaksud bukanlah semacam perasaan yang menyenangkan, tetapi sukacita karena tahu bahwa kita telah melakukan sesuatu yang diperkenankan Tuhan. Memang bisa saja terjadi bahwa penderitaan yang terjadi karena berbuat baik merupakan kehendak Tuhan. Maka hal yang perlu kita ingat adalah bahwa dunia ini telah membuat Kristus menderita padahal Dia hidup sesuai Kehendak Allah. Oleh karena itu selalu ada kemungkinan bagi para pengikut Kristus untuk menanggung penderitaan karena kebenaran. Dan penderitaan semacam itu mengidentifikasi kedekatan kita dengan Tuhan.
                Perikop ini menekankankan untuk rajin berbuat baik demi nama Tuhan. Taat akan perintah Tuhan meskipun ada banyak penderitaan yang datang mencobai kita. Berbuat baik adalah bagian dari orang kristen. Membangun hidup harus saling memberi berkat, seperti pembacaan kita pada minggu yang lalu. Kata-kata yang keluar dari mulut kita harus kata-kata yang memberi berkat bukan kutuk. Apakah wajar jika mulut yang mengeluarkan berkat juga menjadi mulut yang mengeluarkan kutuk? Maka dari pada itu marilah kita berbuat baik kepada sesama kita, apapun cobaan yang akan kita alami, kita percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita saat kita ada dalam cobaan. Kita belajar dan memulai hidup yang memberi berkat agar kita pun diberkati.
Amin.


Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Buku Sejarah Pikiran & Praktek Pendidikan Agama Kristen - Robert Boehlke Ph.D

Laporan PPL 2017 - Gereja Anglikan Batam, 'Church of The True Light