cerpen pengalaman diri sendiri


DALAM KENANGAN YANG TAK TERLUPAKAN

Dalam kenangan yang tak terlupakan

»Januari 2010«

   Saya adalah seorang murid baru di salah satu sekolah di Kabupaten Minahasa. Saya pindah dari bagian selatan Minahasa tercinta. Saya pergi tanpa di antar  oleh orang tua, saya duduk di ruangan kepala sekolah, sembari menunggu jam pelajaran di mulai. Saya di antar ke kelas yang baru oleh wakil kepala sekolah. Ketika saya masuk kelas yang baru, saya merasa bahwa inilah masa depan saya. Inilah rumah saya yang baru. Inilah keluarga saya yang baru.

 

»Seminggu kemudian«

  Satu minggu berlalu, saya sudah mulai mengenal teman-teman yang baru, mengenal lingkungan yang baru, dan terlebih guru-guru yang ada. Saya pun sudah berani bergaul dengan teman-teman yang ada di luar kelas baru saya. Hasilnya saya mendapatkan teman baru dari luar kelas baru saya, namanya Dion. Kebetulan rumahnya Dion searah dengan rumah saya yang jauh dari sekolah.

 

»Juli 2010«

  Satu semester pun berlalu, tidak terasa saya sudah duduk di kelas dua SMP, karena saya masuk di SMP disitu pada waktu semester dua. Dan di sinilah perjalanan persahabatan kami di mulai. Persahabatan yang tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Persahabatan yang membuat saya lebih mengerti dan mengenal bagaimana cara hidup ini. Persahabatan ini mungkin tidak sehebat ‘Dudung dan Maman’    dan tidak akan terkenal seperti ‘Spongebob dan Patrick’, tapi kami semua berharap bahwa persahabatan ini akan terkenang sepanjang masa. 

   Naik kelas dua SMP kami senang kelas kami dipindahkan ke seberang jalan tepatnya di depan sekolah kami, dan otomatis kami terpisah dari ruang guru dan kepala sekolah, dan lebihnya kami bisa makan sepuasnya di kantin tanpa diketahui oleh guru. Tetapi kesenangan kami tidak bertahan lama karena ada pengunguman bahwa akan ada pergantian siswa antar kelas dua. Wajah kami tampak muram, terlebih Sesi.

   “Aku benci kita akan dipisahkan, kenapa hal ini dapat dilakukan,” kata Sesi sambil menunjukan muka yang sedih karena mendengar kabar itu. Seketika, Sesi pun merangkul tangan Nia, sambil menahan rasa sedihnya.Tapi, beberapa saat kemudian, wali kelas kami yang dulu mengungumkan bahwa kelas kami tidak akan dipisahkan. Mendengar kabar itu, kami pun sangat senang dengan berita yang ada. Wajah Sesi yang tadinya menunjukkan sedih, sekarang berubah menjadi gembira. Bukan hanya sesi yang gembira mendengar hal itu, tapi seluruh anak-anak kelas juga ikut gembira dan senang.

 

»Suatu hari di kelas«

   Rasa mengantuk yang diderita oleh kelas kami ternyata belum hilang juga dari kami kelas 2 SMP. Seketika teman saya maju ke depan kelas dan sacara sadar atau tidak sadar ia melakukan hal yang telah menjadi obat mengantuk kami. Sangat lucu ketika Nehem memeragakan salah satu gaya mengajar guru kami. Keceriaan kami tidak berhenti ketika Nehem kemballi menirukan gaya mengawas dari Kepala Sekolah kami.

     Kamu sangat pandai menirukan gaya guru mengajar ” . . .kata Sesi kepada Nehem.

     Ia Nehem, kamu membuat kami tidak mengatuk lagi “ . . . sambung Lian.

   Keributan yang kami buat oleh karena perbuatan Nehem mendatangkan hukuman bagi kelas kami. Kami di suruh berada di tengah lapangan sampai jam pulang sekolah. Adapun jam pulang sekolah hanya tinggal 10 menit saja. Jadi kami hanya berdiri di tengah lapangan sebentar saja.Karena kasus yang di buat oleh kelas kami kemarin hari, kelas kami langsung menjadi “Trending Topic” atau Topik Pembicaraan seluruh isi sekolah termasuk Pak Deny yang adalah satpam kami di sekolah.  

 

»Suatu hari di jam pelajaran matematika«

   Ada satu kejadian yang tidak akan pernah dilupakan oleh kelas kami, termasuk saya sendiri. Saat itu,  saya ingat betul pada jam mata pelajaran metematika, keadaan yang bosan, materi yang susah, dan keadaan lapar yang menyerang perut-perut kami. Nehem, ialah pelaku utama yang berperan penting atas semua kejadian ini. Sementara guru matematika menjelaskan, Nehem merekam semua kejadian yang terjadi di dalam kelas. Orang-orang yang duduk di belakangnya tertawa karena melihat kelakuannya. Kelakuan Nehem si pembuat onar pun tidak luput dari mata sang pemberi ilmu. Teguran pertama langsung di berikan kepada sang pembuat onar. Nehem kembali membuat hal-hal yang membuat hati guru marah. Dan inilah puncaknya, guru kami melempar buku-buku yang ada di meja guru, dan berkata “Camkan perkataan saya: Sekarang ini kalau anda terus menggunakan laptop dan hanya akan menggunakannya dengan bermain-main anda akan menjadi anak yang tidak ada gunanya,” kata ibu guru sambil terus menyinggung kepada Nehem.

   Dan mulai pada kejadian itu anggota kelas kami pun sudah jarang membawa laptop ke sekolah. Tapi, lama-kelamaan, kebiasaan itu pun langsung hilang di bawa angin. Kami sepertinya tidak akan pernah kapok dengan teguran-teguran yang pernah di berikan kepada kami. Tapi, itulah kami, persahabatan anak-anak yang sangat terkenal di ruang para guru, kelas kami selalu diperbincangkan oleh para oemar bakri karena perbuatan-perbutan yang kami lakukan terhadap mereka.

 

»Di jam pelajaran Biologi«

  Masih dengan barang elektronik yang satu ini, Laptop. Dan masih dengan sang maestro pembuat keributan. Bukan dengan Matematika, tetapi dengan Biologi. Kali ini bukan laptopnya. Tapi dengan laptop guru Biologi. Ia disuruh oleh guru kami untuk membuat sesuatu di laptop guru kami. Dan ketika Nehem selesai dengan tugas yang di berikan kepadanya. Ia membuka kamera laptop dan mulai merekam dirinya yang bernyanyi secara Lypsinc. Kami semua yang berada di dalam kelas terhanyut dengan suasana yang di buat oleh Nehem, tak terkecuali saya. Saya pun di ajak Nehem untuk meniru apa yang dilakukan olehnya. Ada sekitar 4 video yang terekam oleh kamera laptop guru kami. Dan salah satunya telah beredar di youtube.  Pada keesokan harinya, video itu diperlihatkan Nehem ke semua teman kelas. Semua pun tertawa dengan lantang, termasuk guru bahasa Indonesia kami yang sudah lama berada di depan pintu.

 

 

 

»Februari 2011«

 Saya ingat pada saat kami kelas  IX, teman kami Ichad dan Pingkan akan meninggalkan kami untuk sementara, karena mereka akan diutus mengikuti lomba sains di luar daerah selama beberapa hari. Kami sangat sedih karena kan ditinggalkan oleh kedua sahabat kami. Tapi, kami akan tetap terus menopang semua usaha mereka. Saat itu, sebelum mereka pergi, saya mengajak semua teman-teman kelas untuk bersama-sama mendoakan Ichad dan Pingkan yang akan berjuang.

   Meskipun kalian berdua tidak pulang dengan membawa suatu prestasi tapi kami semua berharap bahwa kalian berdua pulang dengan keadaan sehat. Dan itulah prestasi kalian untuk kami semua.”  Ketika saya mengatakan kata-kata tersebut semua teman-teman langsung mengeluarkan air mata dan saling berpelukan dengan Ichad dan Pingkan. Itu adalah salah satu saat-saat yang tak akan pernah saya lupakan.

 

»13 Februari 2011«

   Valentine Day atau Hari Kasih Sayang telah tiba. Para pengurus OSIS melakukan rapat untuk menentukan akan ada acara apa di hari kasih sayang besok hari. Saya dan kedua teman saya Rivi dan Lisa dipanggil oleh guru untuk mendampingi OSIS yang rata-rata kelas 7 dan 8. Sampai di kelas ternyata sudah ada guru di kelas, dan kami bertiga tidak luput dari kata-kata pedas sang pendidik. Kami disuruh untuk membuat surat pernyataan yang menyatakan bahwa kami tidak akan melakukan hal itu untuk kedua kalinya. Kami membawa surat itu di ruang guru ketika pulang sekolah. Sampai di ruang guru kami langsung menghadap pada guru mata pelajaran dan kembali dimarahi, tidak hanya oleh satu orang guru tapi hampir semua guru.

»14 Februari 2011«

   Keesokan harinya acara pun di mulai saat pulang sekolah. Acara yang meriah tapi tidak untuk kelas kami yang tidak lengkap dikarenakan dua teman kami yaitu Pingkan dan Ichad sedang tugas luar. Namun kami tidak lupa mengucapkan salam kepada mereka lewat menelpon mereka. Terlihat dari jauh kelas kami yang berada di atas. Nampak begitu meriah dengan adanya hiasan-hiasan buatan kami sendiri, meskipun tidak semuanya membantu, termasuk saya sendiri.

  Dalam acara hari kasih sayang, ada sebuah lomba yang berjudul ‘Raja Gombal’. Kelas kami mengutus saya. Saya bingung harus berkata apa di depan siswa sekolah saya yang hamper mencapai tiga ratus siswa maupun siswi. Tapi, saya berhasil, meskipun hanya saya pesertanya. Ada juga pertunjukkan menari yang anggotanya berjumlah tujuh orang, dua diantaranya adalah anggota kelas kami, yaitu Yafer dan Nehem. Penampilan yang sangat menghebohkan dan meriahkan sehingga mendapatkan tepuk tangan dan apresiasi dari para guru termasuk kami seluruh siswa dan siswi yang menontonnya.

 

 

»Agustus 2011«

   Hhhhmmmm, aku masih belum puas dengan miedal yang sudah aku makan, buatan tante di kantin memang tidak ada duanya. Sembari menunggu bel masuk berbunyi, aku memesan lagi satu porsi miedal untuk memuaskan perut saya. 

  Tante, miedal-nya tambah lagi satu porsi!...’ Ucap saya sambil merasa belum kenyang.

  OK!..’ Balas sang penjual yang sementara menyiapkan bahan.

   Akhirnya… kenyang juga. Ternyata masih ada lima belas menit lagi waktu istirahat. Aku memilih untuk tinggal saja di kantin dan berbincang-bincang dengan teman-teman saya. Tiba-tiba terdengar di pengeras suara sekolah bahwa anggota maengket akan diadakan latihan.

 Hahahahaaa… apa si itu maengket? Cuma cowok-cowok banci yang mau mengikuti latihan itu…’ Kata teman saya.

  Benar itu!...’ Balas saya sambil mengiakan perkataan teman saya.

Tiba-tiba…

Joshua, Joshua, joshua!….’ Kata teman saya sambil berlari-lari mendekati saya.

Kenapa?...’ balas saya

Kamu terpilih untuk mengikuti lomba maengket!...’ Kata teman saya itu

APA?...’ teriak saya sambil terkejut mendengar kabar itu.

  Pikiran saya langsung cepat bertindak untuk mencari alasan agar tidak mengikuti latihan dan mengikuti lomba maengket. Tapi, nama-nama yang akan mengikuti lomba maengket sudah di masukkan ke pimpinan sekolah. Teman-teman saya yang ada di kantin tidak henti-hentinya menertawakan saya.  Pasrah sajalah.

    Di tempat latihan saya kebingungan dengan apa yang akan saya lakukan karena saya baru pertama kali latihan maengket dan lebih parahnya, saya tidak tahu apa itu maengket!. Lengkaplah sudah penderitaan saya di tim ini. Malah lomba yang diadakan waktu persiapannya hanya seminggu.

     

»Seminggu Kemudian«

Apakah semuanya sudah siap?...’ Tanya ibu kepala sekolah

SMP kita selalu juara kalau ingin mengikuti lomba maengket!...’ sambung Ibu

   Dalam hati saya, sebenarnya saya belum siap, baik fisik maupun mental. Tetapi teman-teman kelas saya yang selalu mendorong saya untuk maju. Kebetulan ada sekitar tujuh orang teman kelas yang barada di tim maengket untuk mengikuti lomba ini. Sebelum pergi, teman-teman kelas kami mengajak kami semua yang berada di dalam tim untuk berdoa di dalam kelas.

   Lomba yang digelar di Manado mengundang banyak pengunjung yang datang termasuk para turis. Perasaan saya takut dan juga gugup. Tidak terkecuali Theo dan Nehem. Mereka berdua adalah teman kelas saya. Mereka juga beru pertama kali mengikuti lomba maengket.

  Lomba di mulai. Kami berada di urutan ketiga naik panggung. Terdengar pengeras suara yang memanggil tim maengket kami. Kami tampil mengecewakan pada saat itu. Berada di urutan empat dari lima peserta. Kami pulang dengan rasa malu, tetapi teman-teman kelas kami menghibur kami.

 

»November 2011«

   Tim maengket kami kembali dipertemukan dengan formasi yang masih sama. Ternyata salah satu syarat dalam perlombaan ini adalah pasangan harus berjumlah sepuluh pasang, jadi kami harus merelakan dua pasang anggota tim kami, tapi dua pasang yang keluar masih bisa mengikuti latihan maengket. Kali ini kami akan mengikuti lomba maengket dalam memperingati Hari Ulang Tahun Minahasa yang ke 583. Kali ini kami dituntut untuk mendapatkan juara satu pada perlombaan kali ini. Dengan latihan yang giat dan dengan semangat yang berapi-api kami bisa menjuarai perlombaan tersebut dengan status juara satu. Kami sangat bangga dengan prestasi yang bisa saya dan teman-teman saya dapatkan. Dan kami berambisi untuk mengikuti lomba lagi yang di sponsori oleh Institut Kebudayaan Sulawesi Utara yang diadakan di Jakarta.

 

»Februari 2012«

   Akhirnya, kami seluruh anggota tim maengket membuat pertemuan untuk membicarakan lomba yang akan kami ikuti di Jakarta. Awalnya kami dibaritahu bahwa jika kami akan ikut lomba ini, waktu yang kami punya akan tersita banyak. Tapi, kami tidak takut menghadapi itu, kami siap untuk mengikuti lomba yang diadakan di Jakarta. Tapi, ada satu-dua orang siswa yang dari awal sudah menundurkan diri dari tim maengket karena masalah dana. Namun, kami tetap semangat jika kehilangan anggota tim.

  

»Maret 2012«

   Kami pergi ke Jakarta dengan target menjuarai lomba yang di sponsori oleh Institut Kebudayaan Selawesi Utara dan Badan Narkotika Nasional. Kami pergi dengan ambisi yang besar untuk kembali meraih prestasi yang sempat redup sewaktu kami juara empat dari lima peserta. Sebelum kami berangkat kami bersama-sama dengan seluruh anggota kelas kami, melakukan doa bersama untuk mendoakan kami yang akan pergi ke Jakarta dalam rangka mengikuti lomba maengket.

 

»Hari Pertandingan«

   Saatnya kemampuan kami di uji. Latihan yang kami lakukan selama hampir setengah tahun di pertaruhkan saat ini. Memang rasa gugup dan takut berada di pikiran kami. Tapi kami bangga bisa melestarikan budaya daerah Sulawesi Utara yang hampir dilupakan oleh anak-anak muda daerah Sulawesi Utara.

Aku gugup ni…’ kata temanku

Santai saja, lakukan saja yang terbaik…’ balasku.

   Kami berhasil membawakan maengket meskipun ada sedikit false terjadi. Kami mendapat kabar bahwa kami menjadi juara dua dalam perlombaan itu. Meskipun kami gagal memenuhi target kami yaitu menjadi juara satu. Tapi guru pembimbing kami menghibur kami dengan mengatakan bahwa kami telah melakukan yang terbaik.

 

»Hari Perpisahan«

 

   Jujur, hari ini adalah salah satu hari yang membuat saya sangat sedih. Kami telah tamat di jenjang pendidikan Sekolah Menengah Pertama dan akan lanjut ke jenjang yang lebih tinggi. Otomatis kami semua akan terpisah. Ada yang tetap tinggal di Kawangkoan, ada yang ke Tomohon seperti saya dan ada juga yang ke Manado. Meskipun terpisah, tapi kami semua berjanji untuk tidak saling melupakan satu dengan yang lain.

   Terima Kasih untuk yang telah kalian ukir dalam hati saya.!

                                

 

   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Biogarafi

 

Nama                                    :               Joshua Umboh

Kelas                                     :               X-3

Tempat, tanggal Lahir     :               Tomohon. 8 Agustus 1997

Hobi                                       :               Main Futsal

Moto                                  :                 Untuk aman jangan cari aman, tapi cari lawan, dan ketika anda berhadapan dengan lawan butlah ia menjadi kawan, sehingga anda tidak hanya aman, tetapi nyaman dan menawan.

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Buku Sejarah Pikiran & Praktek Pendidikan Agama Kristen - Robert Boehlke Ph.D

Khotbah mengenai 1 Petrus 3 : 13-22

Laporan PPL 2017 - Gereja Anglikan Batam, 'Church of The True Light