Pengertian Liturgi secara Etimologis, Teologis dan Ilmu serta Liturgi sebagai Perayaan Kehidupan
BAB I
PENDAHULUAN
1.1
LATAR
BELAKANG
Dalam kalangan gereja, khususnya
mengenai praktik peribadahan, banyak perhatian tertuju kepada liturgi. dalam
setiap perayaan-perayaan ataupun ibadah, liturgi tidak bisa lepas dari praktik peribadahan tersebut. Hal
itu juga berlaku untuk perayaan-perayan Gereja, seperti Paskah, Natal, Minggu
sengsara, Minggu Advent, bahkan di setiap hari Minggu disediakan liturgi.
Begitu juga banyak jemaat maupun
orang-orang, yang memberi pendapat mereka mengenai Liturgi dan mengapa liturgi
adalah suatu bagian penting dalam setiap perayaan dalam kehidupan setiap
jemaat. Begitu juga banyak pendapat yang timbul bahwa liturgi hanya tersusun
kaku sehingga dalam ibadah banyak orang merasa bosan. Pemahaman atau pendapat
yang timbul dikalangan jemaat itu disebabkan karena kurangnya pengertian mereka
mengenai pengertian liturgi , bukan hanya secara umum, tapi dari kacamata
teologis, juga sebagai ilmu. Bahkan kurangya pengertian mereka, bahwa liturgi
adalah perayaan kehidupan bagi setiap orang percaya.
Dalam makalah ini kami akan
membahas tentang, pengertian liturgy secara etimologi, teologis, dan sebagai
ilmu, serta Liturgi sebagai perayaan kehidupan, guna memberikan pengetahuan
tentang liturgi dan bagaimana liturgi itu sebagai perayaan kehidupan. Serta
bagaimana liturgi dalam perayaan kehidupan diantara umat Israel.
1.2
RUMUSAN
MASALAH
·
Apa pengertian liturgi secara etimologi,
teologis, dan sebagai ilmu ?
·
Bagaimana Liturgi sebagai perayaan
keluarga ?
1.3
TUJUAN
Berdasarkan latar belakang dan
rumusan masalah, maka tujuan dari penulisan makalah ini adalah agar memahami
dan mengerti mengenai Pengertian Liturgi
secara erimologi, teologis, dan sebagai ilmu serta Liturgi sebagai perayaan kehidupan.
BAB II
PEMBAHASAN
PENGERTIAN LITURGI SECARA
ETIMOLOGIS, TEOLOGIS, dan SEBAGAI ILMU.
LITURGI SEBAGAI PERAYAAN KEHIDUPAN
2.1
PENGERTIAN
LITURGI SECARA ETIMOLOGI, TEOLOGIS, dan SEBAGAI ILMU
Kata
liturgi berasal dari bahasa Yunani: leitourgia.
Kata leitourgia berasal dari dua
kata, yaitu ergon, artinya melayani
atau bekerja, dan laos, artinya
bangsa, masyarakat, dan persekutuan umat. Kata laos dan ergon diambil
dari kehidupan masyarakat Yunani sebagai kerja nyata rakyat kepada bangsa dan
Negara. Secara praktis hal itu berupa bayar pajak, membela Negara dari ancaman
musuh atau wajib militer. Namun leitourgia
digunakan untuk menunjuk pelayan rumah tangga dan pegawai pemerintah, semisal
penarik pajak. Rasul Paulus menyebut dirinya sebagai pelayan (leitourgoi) Allah (Roma 13 : 6).
Sebagaimana pemahaman Paulus, liturgi adalah juga sikap beriman sehari-hari. Liturgi
tidak terbatas pada perayaan gereja. Dewasa ini, kata liturgi adalah sebutan
yang khas dan umum berterima untuk perayaan ibadah Kristen.[1]
Asal
usul kata Liturgi adalah kata Yunani leitourgia, yang terdiri atas kata-kata
untuk “bekerja” (ergon) dan “umat
atau rakyat” (laos). Dalam dunia
Yunani kuno, liturgi adalah pekerjaan yang dilakukan oleh rakyat, sesuatu yang
dilakukan demi kepentingan kota atau Negara. Arti itu adalah sama seperti
membayar pajak, tetapi liturgi dapat melibatkan pelayanan yang diberikan secara
rela, sama halnya seperti pajak. Paulus berbicara tentang pemerintahan Romawi
secara harfiah sebagai “liturgists [leitourgoi]
of God” (pelayan-pelayan Allah) dalam Roma 13 : 6 dan tentang dirinya sebagai
“a liturgist [leitourgon] of Christ Jesus to the Gentiles” (pelayan Kristus
Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi) dalam Roma 15 : 16.
Dalam
kutipan buku Pengantar Ibadah Kristen
oleh James F. White, liturgi adalah pekerjaan yang dilakukan oleh orang-orang
demi manfaat orang lain. Dengan kata lain, liturgi adalah contoh sejati dari
imamat semua orang percaya yang didalamnya seluruh komunitas imamat Kristen
mengambil bagian. Menyebut suatu ibadah bermakna “liturgis” adalah untuk
mengindikasikan bahwa kegiatan itu adalah sedemikian rupa sehingga semua orang
yang beribadah itu mengambil bagian secara aktif dalam menyajikan ibadah mereka
bersama-sama. Sama halnya dengan kutipan dari Rasid Racham dalam bukunya Pembimbing ke dalam Sejarah Liturgi
dikatakan bahwa sebisa mungkin mengubah liturgi agar menjadi hidup. Maka,
peserta utama dalam liturgi yang dituju ialah umat, bukan imam. Dengan
demikian, liturgi sekadar tontonan, melainkan ibadah yang hidup yang dirayakan
oleh segenap umat dengan aktif dan memiliki pengertian.
Liturgi
juga penting dipelajari agar kita dapat mengetahui bagaimana membuat liturgi
yang baik, benar, juga sesuai dengan keadaan atau ibadah yang akan dilakukan,
agar juga kita mampu dan mengetahui unsur-unsur dalam liturgi dan pentingnya
suatu kesatuan unsur-unsur itu dalam liturgi, itulah bagaimana jika kita
mempelajari tentang Liturgi, sehingga bisa dikatakan liturgi sebagai suatu
ilmu, dan kita dapat menarik suatu pengertian liturgi dari segi ilmu karena
melalui pembelajaran liturgi dengan kata lain liturgi sebagai ilmu kita
memperoleh pengetahuan tentang bagaimana beribadah yang benar melalui
unsur-unsur dalam liturgi dan kesatuan unsur itu dalam liturgi sehingga penghayatan
karya Allah dalam kehidupan manusia dapat direalisasikan melalui ibadah.[2]
2.2
LITURGI SEBAGAI PERAYAAN KEHIDUPAN
Liturgi
adalah pelayanan – kepada Allah dan kepada sesama manusia yang lain, liturgi
adalah tempat dimana kita menyanyikan akan pengharapan dan masa depan; dia
adalah wahana di mana umat terhanyut oleh visi mengenai kerajaan yang sedang
datang. “Mendengarkan akan apa yang ada di belakang dan melihat apa yang ada di
depan” – itu adalah salah satu kemungkinan dari definisi liturgi, kata Oosterhuis.
Tetapi semuanya itu secara langsung terjalin dengan pengalaman kita, dengan
keseluruhan struktur keberadaan manusia. Jelas sekali, pengalaman-dalam
hubungan ini-tidak dapat disamakan dengan perasaan, seperti yang kadang-kadang
dilakukan. Tentu saja keduanya tidak dapat dipisahkan satu terhadap yang
lainnya, tetapi pengalaman adalah jauh lebih luas dan berasal dari tatanan yang
berbeda. Diantara hal-hal lainnya, mengenal dan menggambarkan juga termasuk ke
dalamnya.[3]
Menurut
pengertian teologis, kita biasa memahami liturgi sebagai perayaan misteri karya
penyelamatan Allah dalam Yesus Kristus. Karya penyelamatan Allah itulah yang
kita rayakan dalam liturgi. Makna “karya penyelamatan Allah dalam Kristus” bisa
kita pahami secara lebih sederhana. Karya penyelamatan Allah dalam Kristus itu
sebenarnya menunjuk karya atau tindakan Allah yang mengasihi dan mencintai
kita, yang memelihara dan melindungi kita, yang melengkapi dan mencukupi segala
sesuatu yang kita perlukan.[4]
Untuk
perayaan (dan peringatan) mengenai perbuatan-perbuatan Allah yang ajaib,
perayaan-perayaan dalam Allah yang ajaib, perayaan-perayaan dalam Alkitab
menjadi sangat penting. Perayaan-perayaan, yang dilakukan pada waktunya,
sebenarnya memberikan struktur pada isi dari bagian Alkitab tersebut. Alkitab
tidak mengenal akan waktu sebagai konsep yang abstrak. Waktu dipahami dalam
pengertian isinya, dan waktu-waktu yang berbeda, maka berbeda pula isinya.
Pengkhotbbah 3 memberikan satu contoh yang baik “Ada waktu untuk lahir, ada
waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang
ditanam,; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan.” Saat-saat
yang sangat penting dalam waktu adalah perayaan, waktu diisi dengan perayaan
memperingati perbuatan-perbuatan Allah. Perayaan-perayaan yang merupakan
kompenen yang esennsial dari struktur waktu dan menanamkan makna pada
keseluruhan dari waktu itu. Dalam Alkitab perayaan-perayaan tidak merupakan
titik-titik penting yang sebentar ada dan sebentar hilang di dalam waktu;
sebaliknya, mereka membentuk struktur dasar yang menopang waktu. Merayakan
hari-hari raya mempunyai arti bahwa orang ikut mengambil bagian di dalam
peristiwa-peristiwa yang dengannya waktu-waktu perayaan itu diisi. Merayakan
berarti menemukan tempat bagi kehidupan orang di dalam perbuatan-perbuatan
besar Allah. Orang yang mengingat perbuatan-perbuatan ini, yang merayakan dan
mengalaminya, juga akan menemukan bahwa waktu-waktunya diisi dengan perbuatan-perbuatan
itu. Jadi waktu-waktu dari seseorang disusun dalam pengertian-pengertian
tindakan Allah sehingga kehidupan menjadi dapat dihayati lagi.[5]
Perayaan-perayaan
yang paling penting dalam Alkitab dimulai sebagai perayaan-perayaan yang
berkaitan dengan peristiwa-peristiwa alam dan karenanya merefleksikan ritme
dari alam, ritme menabur dan menuai. Hal yang mencolok mengenai
perayaan-perayaan ini adalah bahwa mereka telah disejarahkan artinya, mereka
telah menerima isi dan makna dari sejarah keselamatan. Contohnya, perayaan
panen gandum menjadi pesta Paskah, perayaan peringatan akan Keluaran. Perayaan
panen tanam-tanaman menjadi perayaan Tujuh Minggu yang didalamnya pembuatan
perjanjian di Sinai diperingati. Akhirnya, perayaan akbar musim panen (anggur
dan minyak buah zaitun) menjadi perayaan Pondok Daun, perayaan untuk
memperingati perjalanan di padang gurun. Sebagai tambahan untuk ketiga perayaan
yang telah kita sebut tadi rujukan dalam Imamat 23 mengenai perayaan hari
Pendamaian Agung. Setelah pembuangan, Pesta Purim – perayaan mengenai lolosnya
orang-orang Yahudi melalui perantaraan Ester – ditambahkan, sama halnya dengan
Hanukkah, pesta penahbisan kembali Bait Suci. Peraaan peringatan atau jatuhnya
Bait Suci dan pesta Simkhat Torah, atau Sukacita Torah, muncul lebih kemudian.[6]
Peribadatan
di dalam Alkitab mempunyai tradisi dari agama Yahudi. Sebagian sifat ibadah
Israel adalah perayaan pertanian dan penggembalaan yang berhubungan dengan
sitem iklim dan musim. Ibadah terseuut berlatar belakang masyarakat nonmaden
gurun pasir dan penduduk penetp di tanah Kanaan. Beberapa diantara perayaan
alam ini kemudian dihubungkan dengan sejarah penyelamatan.[7]
Masih,
dalam setiap perayaan liturgis tidak hanya “perjalanan lahir” yang akan harus
tampil, tetapi juga “perjalanan batin”, untuk menemukan jati diri seseorang
dalam perjumpaan dengan Allah.[8]
Segala sesuatu yang diselenggarakan
oleh Allah dalam kehidupan kita sehari-hari adalah karya atau tindakan Allah.
Dan, apapun yang dibuat atau dilakukan oleh Allah tentu mendatangkan
keselamatan dan kebaikan bagi kehidupan kita. Kalau kita mengalami hal yang
baik, seperti lulus ujian, dapat hadiah kagetan (door prise), dapat oleh-oleh
dari teman, ditraktir dan sebagainya, tidaklah sulit bagi kita untuk mengatakan
bahwa betapa baiknya Tuhan. Namun, bila kita mengalami kegagalan studi,
ditinggalkan orang tua atau kekasih, atau dilupakan teman, bagaimana kita masih
bias mengatakan bahwa Allah itu baik ? Bukankah kita merasa sangat sulit ketika
mengalami hal tersebut ? Tetapi, juga dari pengalaman kita sendiri, sesudah
mampu dan mengolah segala peristiwa itu, entah baik atau jelek, entah berhasil
atau gagal, menurut kacamata iman, kita akan melihat tindakan Allah yang
menyelamatkan.
Harus diakui bahwa peristiwa yang
dialami oleh manusia, daalam hidupnya tidak selalu jelas. Banyak peristiwa
dalam kehidupan ini sama sekali tidak jelas. Mengapa orang lahir ? Mengapa
orang hidup dan akhirnya mati ? Dimanakah kebahagiaan itu ? Ada yang mengira
bila sudah mempunyai kekayaan dan harta benda melimpah, ia akan bahagia.
Sementara yang lain mengira bila sudah meminum narkoba atau sabu-sabu, orang
akan bahagia dan damai. Nyatanya tidak. Kedamaian, ketentraman, dan kebahagiaan
sejati itulah yang sebenarnya hanya dapat ditemukan dalam diri Allah sendiri.
Namun, Allah sendiri sesungguhnya sudah menawarkan kepada manusia. Melalui dan
dalam terang iman kepada Kristus, apa yang gelap dan menjadi teka-teki dalam
kehidupan manusia terjawab dengan tuntas dan tegas. Itulah sebabnya, bila kita
menyebut liturgi sebagai perayaan misteri penyelamatan Allah dalam Kristus,
sebenarnya kita berbicara mengenai perayaan kehidupan kita sendiri bersama
Allah. Kebersamaan Allah berlangsung dalam Kristus. Segala tindakan Allah yang
mengasihi, memelihara, dan melindungi kita, selalu dilakukan melalui Yesus
Kristus. Maka, akhirnya liturgi kita sebenarnya hanyalah merayakan segala
tidakan dan perbuatan Allah dalam Kristus yang senantiasa kita alami
sehari-hari. Karna liturgi merayakan karya penyelamatan Allah, maka liturgi
merayakan apa yang dilakukan oleh Allah melalui Kristus dalam hidup kita, yaitu
penyelamatan. Namun, penyelamatan tersebut terwujud dan dilaksanakan secara
konkret dari kehidupan kita bersama Allah melalui peristiwa-peristiwa suka dan
duka yang kita alami sehari-hari. Jadi, segala kisah, seluruh kegembiraan dan
kekecewaan, seluruh pekikan suara sorak-sorai dan jeritan tangis pilu kita
hanyalah bentuk atau wujud konkret dinamika tindakan penyelamatan Allah yang
terlaksana dalam keseharian. Dan persis itulah kita rayakan dalam perayaan
liturgi.[9]
BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Liturgi
diambil dari kata Yunani berdasarkan dengan kehidupan masyarakat saat itu,
yaitu leitourgia, dimana leitourgia digambarkan melalui kehidupan
masyarakat saat itu tentang pekerjaan dan pengadian kepada bangsa dan Negara,
dalam hal ini adalah pemberian diri dan kerelaan diri untuk pembayaran Pajak.
Kata Liturgi kita pakai, dimaksudkan agar kita atau semua jemaat dapat memberi
diri, dan rela memberi diri untuk Tuhan dan semua terlibat secara aktif dalam
ibadah.
Dalam
setiap perjalanan kehidupan, tentu banyak sekali hal yang manusia hadapi bukan
hanya suka tetapi juga peristiwa duka, dalam setiap aspek kehidupan Allah
menunjukkan karya penyelamatan-Nya melalui setiap peristiwa yang kita alami
dalam kehidupan kita. Liturgi sebagai perayaan kehidupan, dimana kita selalu
menyediahkan hidup yang bersyukur dan menjadi pribadi yang memberi diri kepada
Tuhan dalam rangka merespon karya penyelamatan yang Allah berikan untuk kita
manusia.
Seperti
halnya dalam Alkitab bangsa Israel, berbagai perayaan mereka lakukan dengan
berbagai ketentuan disetiap perayaan, ini dimaksudkan untuk merespon karya
penyelamatan Allah kepada mereka, lewat hasil panen yang melimpah, lewat
dibebaskan dari pembuangan, bahkan lewat penyertaan Tuhan dalam kehidupan
mereka.
Liturgi
sebagai perayaan kehidupan bukan berarti kita melakukan perayaan seperti “pesta
pora” untuk merespon karya Allah, sehingga jika kita mengalami peristiwa duka
berarti kita tidak dapat dapat melakukan perayaan, ataupun kita hanya melakukan
perayaan sekedar formalitas saja. Anggapan itu sebenarnya salah, Karena yang
dimaksud sebagai perayaan kehidupan adalah dimana kita mensyukuri atas segala
peristiwa seperti ungkapan “Bersyukurlah dalam segala hal” dalam hal kita
mensyukuri segala karya penyelamatan Allah, maka kita mengungkapkannya melalui
ibadah yang benar kepada Tuhan, dari situlah lahirlah Liturgi untuk memimbing
kita dalam melakukan perayaan kehidupan itu.
DAFTAR PUSTAKA
Rachman, Rasid
2014 Hari
Raya Liturgi : Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja..( BPK Gunung Mulia: Jakarta )
Olst, E. H. van
2015 Alkitab
dan Liturgi. : ( BPK Gunung Mulia: Jakarta )
White, James F.
2015 Pengantar
Ibadah Kristen. ( BPK Gunung Mulia: Jakarta )
Rachman, Rasid
2012 Pembimbing
ke dalam Sejarah Liturgi. : ( BPK Gunung Mulia: Jakarta )
Martasdjita, E
2002 Spiritualitas
Liturgi. : ( Kanisius: Semarang)
[1]
Rasid Rachman., Pembimbing ke dalam
Sejarah Liturgi. (Jakarta : bpk Gunung mulia), hal 2
[2]
Argumentasi Kelompok
[3]
E.H.Van Olst., Alkitab dan Liturgi.
(Jakarta : bpk Gunung Mulia), hal 111
[4]
E, Martasdjita, Pr., Spiritualitas Liturgi. (Semarang : bpk
Gunung Mulia), hal 23
[5]
E.H.Van Olst., Alkitab dan Liturgi.
(Jakarta : bpk Gunung Mulia), hal 41-42
[6]
E.H.Van Olst., Alkitab dan Liturgi.
(Jakarta : bpk Gunung Mulia), hal 46
[7]
Rasid Rachma., Hari Raya Litturgi :
Sejarah dan Pesan Pastoral Gereja. (Jakarta : bpk Gunung Mulia), hal 6
[8]
E.H.Van Olst., Alkitab dan Liturgi.
(Jakarta : bpk Gunung Mulia), hal 113
[9]
E, Martasdjita, Pr., Spiritualitas Liturgi. (Semarang : bpk
Gunung Mulia), hal 23-26
Keanggotaan kelompok : Nia Tuuk, Gabriella Tangkulung dan Priska Mewengkang
makasih gan
ReplyDelete