Khotbah Jumat Agung - Ibrani 10:19-21

Nama     : Joshua Nugraha Umboh
Dosen    : Pdt. Roy D. Tamaweol Th.M
Pembacaan: Ibrani 10 : 19-21 ( Jumat Agung)

Perayaan Jumat Agung merupakan perayaan sukacita orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Inti perayaan ini adalah peringatan akan kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib. Dalam bahasa inggris Jumat Agung disebut Good Friday. Terlintaskah di pikiran kita mengapa sebuah kematian disebut suatu tindakan yang baik? Tindakan Tuhan Yesus mati di atas kayu salib adalah tindakan yang membuka pintu antara Allah dan manusia. Semua mujizat yang dilakukan Tuhan Yesus sungguh hebat, ketaatan-Nya kepada Bapa sungguh indah, pengusiran setan yang dilakukan-Nya luar biasa, kebangkitan-Nya mulia! Namun, hanya oleh kematian Tuhan Yesus di atas kayu salib saja, oleh karya penebusan-Nya, maka kita bisa memasuki hubungan yang manis dengan Bapa.  Kematian Yesus telah membuka jalan bagi manusia. Jalan yang semula tertutup oleh dosa, dan  tidak bisa dilalui,  kini terbuka bagi manusia. Yesus adalah akses masuk kita, Dialah password kita memasuki taktha Allah.
Di perayaan yang agung dan mulia ini, saya mengajak kita untuk memahami pembacaan dalam Ibrani 10:19 -21. Ada ungkapan yang mengatakan ada banyak jalan menuju Roma, namun jalan keselamatan hanya satu, yaitu melalui Tuhan Yesus Kristus.
Di akhir abad pertama, jemaat Kristen generasi kedua yang berlatar belakang Yahudi dan tinggal di luar Palestina, mulai meninggalkan iman mereka kepada Yesus dan kembali menjadi pemeluk agama Yahudi. Mereka berbuat demikian karena mengalami penderitaan dan tekanan. Tekanan yang dialami berupa penganiayaan bagi para pembaca Ibrani, dan yang lainnya menyaksikan penderitaan saudara-saudara seiman mereka. Untuk menguatkan iman mereka agar terus bertumbuh di dalam Kristus dan tidak kembali lagi kepada keyahudian maka disampaikan khotbah pengajaran yang mendasar tentang iman Kristen  dengan menekankan pentingnya keselamatan yang dikerjakan oleh Yesus. Konteks kita sekarang memang jauh berbeda dengan kekristenan di akhir abad pertama, namun komitmen untuk bertahan pada pengakuan iman kepada Yesus mulai luntur. Hal ini dipengaruhi oleh ketidaksiapan kita menghadapi kemajuan dan perkembangan modern sekarang ini.  Dengan serta merta kita menerima kemajuan zaman bahkan turut dipengaruhi olehnya. Arus kemajuan ini mendesak kita sampai pada realitas rohani yang sering membuat orang percaya meninggalkan Kristus karena alasan uang, jabatan/pekerjaan, pasangan hidup atau apapun itu, yang sifatnya sekedar memenuhi seluruh ambisi dan keinginan material.

Berita Firman Tuhan di hari ini mengajak kita menghayati arti pengorbanan Kristus. Oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus.

Penekanan  kata  oleh darah Yesus menyatakan bahwa akses ke tempat kudus  dapat dilalui  oleh atau  nyawa Kristus yang dipersembahkan sebagai korban  penebusan dosa manusia. Yesus telah membuka suatu jalan yang jauh lebih baik untuk menghampiri Allah. Inilah hak istimewa yang diberikan kepada orang percaya, yaitu kita memperoleh tiket gratis menempuh perjalanan keselamatan.
Akses manfaat yang berikutnya adalah aspek yang timbul oleh terbukanya jalan kepada tempat kudus, sekarang dimiliki dengan penuh keberanian oleh orang percaya. Kata  Keberanian diterjemahkan juga dengan kepastian iman atau memiliki keyakinan penuh. Istilah ini menyatakan perasaan baru orang percaya yang telah diterima dalam keakraban hubungan dengan Allah, berdasarkan karya pengorbanan Yesus yang sempurna. Olehnya dengan leluasa kita boleh mendekati Allah sebab kita telah diterima  dan disambut oleh-Nya. Dia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup.  Kata baru yang berarti baru saja, segar. Sedangkan hidup berarti peneguhan dari kebangkitan, bahwa Ia dibunuh namun sekarang Ia hidup  selama-lamanya. Hal ini ditandai dengan Tabir yang memisahkan ruang kudus dan maha kudus telah terbelah menjadi dua, dari atas ke bawah. Yesus menjadi imam besar kita dengan mengurbankan diri-Nya sendiri. Dialah kepala rumah Allah yang mengatur siapa yang boleh masuk ke tempat kudus Allah, Ia akan menyambut kita untuk masuk dan tinggal menikmati hadirat Allah selama-lamanya.
Perayaan Jumat Agung hari ini, kiranya memberi kita peneguhan dan penguatan bahwa Jalan telah terbuka bagi kita, jalan pendamaian …jalan keselamatan oleh kematian Tuhan Yesus Kristus. Karena itu  perayaan ini sangat berarti untuk dimaknai dalam kehidupan kekristenan. Kita harus masuk kehadirat Allah dengan perasaan takut dan gentar, hormat dan sujud. Sebab kita tidak mungkin membicarakan tanpa rasa takut dan gentar. Kalau sudah tidak ada kegentaran maka keberanian itupun tidak ada nilainya. Berani tanpa disertai rasa takut dan gentar maka itu yang dinamakan dengan istilah nekad. Kalau kita masuk ke rumah Tuhan dengan keberanian tanpa rasa takut maka kita bersikap kurang ajar. Seharusnya kita datang beribadah kepada-Nya dengan syukur, hati yang murni, tulus dan ikhlas untuk  mempersembahkan hati kita kepadanya . Zaman sekarang ini sering dikatakan jaman” kita”. Orang hidup seenaknya,  semuanya serba kita, kemauan kita, suka-suka kita.
Jika kita hendak memaknai perayaan kematian Yesus sebagai peringatan tentang pengorbanan Kristus maka pada prinsipnya kita memilih jalan pilihan Tuhan, jalan pengorbanan diri. Serta tidak berusaha memposisikan diri berada di persimpangan jalan dan berusaha cari jalan lain atau pun juga dengan  menghambat jalan orang lain untuk datang kepada Tuhan.
Jalan Yesus telah terbuka bagi kita, yaitu jalan keselamatan untuk semua orang yang  percaya kepadaNya. Dalam pengertian ini kekristenan  tidak hanya dipahami sebatas teori semata melainkan  kebenaran yang nyata. Di mana iman Kristen harus dipraktekkan dan diekspresikan serta diwujudkan secara total. Sebab  tidak akan ada artinya jika perayaan ini hanya sekedar selebrasi liturgis yang simbolik yang dimaknai dengan makan roti dan minum anggur, pawai obor, atraksi penyaliban  atau hanya sebatas pada kegiatan-kegiatan yang menjadi tradisi gereja kita. Karya penebusan Kristus harus dihayati, dimaknai dengan bertumbuh menjadi serupa dengan Kristus  baik secara pribadi maupun sebagai persekutuan.
Peringatan inipun mengandung keyakinan eskatologis (pengharapan akan kedatangan Yesus di akhir zaman)  dimana orang percaya tidak takut akan kedatangan Kristus kedua kali dan penghakimanNya. Dalam masa penantian ini orang percaya hendaklah berusaha memelihara imanya dengan penuh keteguhan dan ketaatan serta  dengan rajin dan terus menerus mengambil bagian dalam pelayanan Kristus melalui gerejaNya di  dunia ini. Amin


Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Buku Sejarah Pikiran & Praktek Pendidikan Agama Kristen - Robert Boehlke Ph.D

Khotbah mengenai 1 Petrus 3 : 13-22

Laporan PPL 2017 - Gereja Anglikan Batam, 'Church of The True Light