Hidup Oleh Roh. Sulit tapi salut jika dapat menjalani. Roma 8-1-11.

Tidak semua orang mau dipimpin oleh Roh. Hidup yang mau dipimpin oleh Roh adalah jalan hidup yang susah (secara duniawi). Ketika keinginan daging mengusai kita, maka yang kita perbuat ialah menikmatinya. Kita enjoy dengan apa yang sementara kita perbuat. Kita berbuat jahat. Seringkali saya perhatikan bahwa ada beberapa orang yang bangga menceritakan tentang perbuatan jahatnya dari pada perbuatan baiknya. Orang dengan senangnya mencerikatan perbuatan buruknya (tidak semua orang). Saya pernah mendengar teman-teman saya berkata “nakal dulu baru sukses, bukan sukses dulu mau nakal”. Sebagian berpikir itu ada juga benarnya. Termasuk saya, tapi begaimana kalau kita ‘out of the box’, apakah kita harus menjadi ‘nakal’ and then jadi ‘sukses’ ? Apakah kita harus melewati masa ‘kenakalan’ itu baru kita memperoleh kesuksesan? Bagaimana jika saya berkata : “Sukses mau datang ketika seseorang tidak nakal’ ? artinya bahwa kita tidak perlu melewati masa ‘nakal’ untuk menjadi sukses. Itulah kita, terlalu membanggakan keinginan daging yang ada dalam diri kita, sehingga Roh Allah tidak dapat bekerja dalam diri kita.
Surat Roma ini adalah surat yang paling panjang di antara surat Paulus yang lain. Ada yang mengatakan bahwa inilah surat Paulus yang dikatakan paling teologis dan paling berpengaruh. Kepada jemaat di Roma, Paulus menghimbau para anggota jemaat untuk mempersembahkan tubuh mereka sebagai kurban yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Allah, karena inilah logike latreia (pelayanan yang wajar) mereka. Artinya bahwa, bukan ‘ibadah mereka yang layak’ melainkan lebih tepat dikatakan ‘ibadah mereka yang relevan’. Ketika kita mau bekerja di ladangnya Tuhan, maka itulah ibadah kita yang sejati. Ibadah bukan hanya terbatas pada ibadah secara ‘liturgi’ saja. Melainkan ibadah itu nampak ketika kita ‘bekerja’, karena dalam bahasa Ibrani, ibadah diartikan bekerja. Maka secara teologis dapat diartikan bekerja di ladangnya Tuhan. Percuma jika ketika ibadah di gereja kita terlihat sangat sungguh-sungguh memuji Tuhan, tapi ketika selesai, kita kembali kepada sifat-sifat buruk kita.
Pembacaan Alkitab kita pada pagi hari ini adalah kelanjutan dari perikop sebelumnya. Orang-orang yang hidup dalam kedagingan mereka tidak menuju ke neraka, kerena dosa mereka telah diampuni. Tapi secara pelaksanaannya, dari segi pengalaman sehari-hari mereka masih ada dalam siklus dosa.  Dalam perikop sebelumnya, bagaimana Paulus mengakui bahwa dalam kehidupannya, ia masih terus dibayang-bayangi oleh keinginan duniawi/daging,  meskipun pada faktanya Paulus sendiri berusaha untuk hidup dalam keinginan Roh. Dalam ayat yang pertama dengan jelas menyajikan suatu hubungan yang erat dari perikop sebelumnya. Bahwa orang-orang yang berada di dalam Kristus tidak akan dihukum mati, sebab Kristus telah dihukum sebagai ganti mereka. Pada ayat yang kedua, Rasul Paulus menjelaskan bagaimana dengan pergumulan melawan dosa yang sebelumnya juga telah dilukiskan Rasul Paulus. Paulus berbicara tentang Roh yang telah memerdekakan kita. Dan Roh, yang telah membebaskan kita dari hukum dosa dan hukum maut. Pada ayat yang ketiga, Paulus berbicara hukum taurat. Pada dasarnya Hukum Taurat bersifat suci dan berlandaskan kasih. Akan tetapi, manusia membuat itu semua ‘rumit’. Bagaimana bisa 10 Hukum Taurat yang diberikan oleh Tuhan kepada Musa, diperbanyak menjadi 613 Hukum yang ditambah kemudian oleh ahli-ahli taurat. Hukum Taurat menhadapi kesulitan menangani suatu keadaan mustahil. Hidup dalam kedagingan mengacu pada hidup di bawah kendali dosa. Dosa sebagai kekuatan yang memberontak melawan Allah.
Satu kebenaran firman Tuhan yang kita baca pada pagi hari ini, menyajikan dua komponen yang sangat bertolak belakang. Dua komponen yang bertentangan, dua komponen yang tidak bisa dipersatukan. Komponen yang pertama ialah suatu gelagat yang berpola pikir kepada hal-hal yang duniawi. Susah melihat orang lain senang, dan senang melihat orang lain susah. Itulah keinginan daging. Dan komponen yang kedua ialah karakter yang mau maju bersama dalam hal-hal yang positif. Hidup yang telah meniggalkan kehidupan duniawi. Itulah keinginan Roh.
Paulus memakai kata daging dalam hal ini bukan untuk menyatakan daging secara fisik,  tubuh. Tapi tentang tabiat manusia yang mudah jatuh ke dalam dosa. Hidup menurut daging berarti kehidupan yang dikuasai suara dan keiniginan dari tabiat manusia yang berdosa menggantikan kehidupan yang dikuasai oleh kasih Allah. Keinginan bukan hanya sekedar hal-hal yang jasmani. Melainkan juga termasuk hal-hal rohani. Mari kita baca dalam Galatia 5:19-21. Paulus mendaftarkan perbuatan-perbuatan daging. Orang yang dikuasai keinginan daging berlaku hukum kehidupan[A1]  yang berpusat pada keinginannya sendiri dan dikendalikan tabiat yang berdosa.
Bagaimana dengan Keinginan Roh?
Paulus memakai kata Pneuma yang berarti Roh. Roh dalam bahasa Inggris diartika The Spirit. Di dalamnya memiliki pengertian tentang kuasa. Dalam sastra Perjanjian Lama, Roh Kudus diartikan sebagai suatu hal yang melebihi manusia. Paulus dalam Perjanjian Baru memakai kata Roh Kudus untuk menyatakan kuasa ilahi. Orang yang mau hidup oleh Roh baginya berlaku hukum kehidupan yang berpusat pada keinginan Kristus, dikendalikan oleh Roh dan diarahkan kepada pribadi Allah. Sekali lagi ada tiga hal penting ketika kita mau hidup oleh Roh, yakni : Berpusat pada Kristus, dikendalikan oleh Roh dan diarahkan kepada pribadi Allah.
a.      Berpusat pada Kristus
Sering orang kristen menempatakan Kristus sebagai Tuhan saja. Ia menjadi Tuhan atas kehidupan pada hari minggu.  Tidak pada hari-hari yang lain. Ia dimuliakan dalam kebaktian di gereja. Bukan di tempat kerja, sekolah, tempat hiburan, pergaulan dan lain-lain. Inti hidup kita tidak kita serahkan total kepada Tuhan. Kristus haruslah menjadi pusat atau sentral dalam setiap aspek kehidupan kita. Hidup yang berpusat kepada Kristus akan senantiasa mengutamakan dan mengandalkan Kristus. Hidup yang berpusat kepada Kristus, membuat orang percaya dapat mengalami hadirat dan kuasa Allah. Baginya, Tuhan akan terus hadir dalam setiap aspek kehidupan. Baik itu dalam keluarga, masyarakat dan bergereja.
b.      Dikendalikan oleh Roh
Hidup yang mau dikendalikan oleh Roh, adalah hidup yang mengakui Kristus sebagai Raja. Ketika hidup kita mau dikendalikan oleh Roh, kita memberikan totalitas kehidupan kita masing-masing untuk siap meninggalkan kehidupan yang keduniawian. Kehidupan itu berbicara mengenai keputusan dan perencanaan. Hidup kita selalu diperhadapkan dengan keputusan dan perencanaan. Tidak sedikit orang yang salah mengambil keputusan dan salah  juga melakukan perencanaan, pada akhirnya timbul penyesalan dan kekecewaan. Roh Kudus adalah Roh Allah dan Allah tidak pernah salah menyatakan dan memimpin umat-Nya. Percayalah, Allah tidak salah membawa hidup anda. Kalau anda beriman bahwa anda ada pada tahap ini karena Tuhan yang memimpin, maka anda pun ada dalam tahap ‘dikendalikan oleh Roh Allah’.  
c.       Diarahkan kepada pribadi Allah
Munculnya suatu pengarahan kepada pribadi Allah berarti ada pengenalan secara pribadi, yang ditunjukkan melalui kedekatan kepada Allah. Kerinduan untuk selalu dekat kepada Allah.  Kedekatan kepada Allah menimbulkan adanya rasa ingin untuk terus mengenal, mengetahui dan mencintai Allah. 
Hidup dalam Roh, berarti hidup menurut jalan Tuhan. Anda harus siap menderita kalau ingin hidup oleh Roh. Tapi ingat, janji keselamatan Allah pun akan menyertai kita jikalau kita memberi diri untuk hidup dalam Roh.
Ketika orang pilihan dilahirkan kembali sehingga mampu bertobat, mampu percaya, dan dipersatukan dengan Tuhan Yesus, maka pada saat itulah Roh Kudus tinggal dalam hidup orang percaya. Ketika Roh Kudus tinggal dalam hidup orang percaya, maka tugas Roh Kudus adalah untuk mengajar orang percaya. Bukan hanya itu saja Roh Kudus membersihkan orang percaya dari segala kecemaran dosa, Roh Kudus juga meminpin orang percaya, bersaksi dalam hidup orang percaya, sebagai meterai menuju pengesahan, sebagai penolong, bersyafaat bagi orang percaya, mengubah hidup orang percaya, memampukan orang percaya, mewujudkan buah Roh, memberi keberanian, memberi kuasa.
Apa tanggung jawab kita? Hidup sesuai dengan kuasa kehidupan Roh Kudus telah diberikan dalam hidup kita. Kita sudah dimerdekakan dari dosa, maka hidup kita tidak boleh menyerah terhadap godaan dosa. Mari kita menjaga kesucian hidup kita. Kita memiliki akses langsung kepada Allah Bapa, maka kita harus memelihara persekutuan intim dengan-Nya, memanggil dengan mesra. Bersekutu dengan Allah lewat merenungkan firman-Nya dan berdoa. Kita telah memiliki kepastian keselamatan, maka apapun masalah yang kita hadapi dalam hidup ini, kita tidak boleh bimbang bahwa kitalah pewaris segala janji Allah. Maka hiduplah sebagai anak-anak Allah.
Hidup dalam Roh berarti.
1.       Hidup kita menjadi baru bukan lagi dalam dosa
Kita tinggalkan segala macam sifat kedagingan yang ada pada diri kita. Kalau dulu egois, marilah sekarang timbulkan rasa kebersamaan. Kalau dulu gegabah, marilah belajar untuk tetap tenang menghadapi masalah. Kalau dulu suka menghina orang, marilah sekarang kita introspeksi diri. Kita menjadi manusia yang baru yang tidak lagi hidup dalam kuasa dosa.
2.       Pola pikir kita dikendalikan oleh Roh Kudus
Ketika hidup kita mau dikendalikan oleh Roh, kita memberikan totalitas kehidupan kita masing-masing untuk siap meninggalkan kehidupan yang keduniawian, dan mulai berpikir, bertindak, berlaku menjadi manusia yang baru yang dikendalikan oleh Roh Kudus.
3.       Sikap baru yaitu tunduk dan cinta kepada Allah bukan lagi berontak melawa Allah
Pernahkah kita mempersalahkan Allah dalam keadaan tertentu? Ingat, perencanna Allah adalah mutlak dan itu baik. Sehingga yang harus kita balas dari perencanaa Allah ialah, ungkapan syukur yang tiada hentinya. Marilah kita belajar untuk selalu bersyukur sebagai manusia yang baru. Kita yakini dan imani bahwa apa yang terjadi dalam hidup kita, semuanya itu adalah rencana Allah, dan bahwa Allah tidak pernah merancangkan situasi yang buruk kepada kita.
Ingat, Roh Kudus memberi dampak yang besar bagi setiap orang percaya. Barangsiapa tidak mau percaya, pasti tidak akan pernah merasakan kuasa yang besar ini dalam hidupnya. Marilah kita hidup dalam Roh, kita meninggalkan sifat kedagingan kita. Menjadi pribadi yang mau memberi diri dalam pembentukan karakter. Ditempa dengan begitu banyak tantangan dan cobaan yang seolah-olah tidak kunjung henti. Tapi saudara, ingat bahwa meskipun konsekuensi dengan Allah itu sulit jalannya. Meskipun Allah tidak tidak pernah janji bahwa hidup anda akan aman, kaya, enjoy, mudah, gampang. Tapi janji Tuhan bahwa Ia tidak akan pernah meninggalkan kita akan selalu hadir dalam hidup kita.
Tetap kuat jalani hidup ini, tetap bersyukur. Dan biarlah seluruh totalitas hidupmu dipergunakan untuk melayani Tuhan.



Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Buku Sejarah Pikiran & Praktek Pendidikan Agama Kristen - Robert Boehlke Ph.D

Khotbah mengenai 1 Petrus 3 : 13-22

Laporan PPL 2017 - Gereja Anglikan Batam, 'Church of The True Light