Teologi Pembebasan di Amerika Latin
Teologi
Pembebasan
Teologi Pembebasan adalah sebuah paham
tentang peranan agama dalam ruang lingkup lingkungan sosial. Dengan kata lain
Teologi Pembebasan adalah suatu usaha kontekstualisasi ajaran-ajaran dan nilai
keagamaan pada masalah kongkret di sekitarnya. Teologi Pembebasan adalah upaya
berteologi secara kontekstual. Teologi Pembebasan yang diterjemahkan dari
Bahasa Inggris Liberation Theology menjadi keharusan bagi kegiatan
gereja-gereja dalam komitmen kristianinya pada kehidupan sosial. Teologi
pembebasan lahir sebagai respons terhadap situasi ekonomi dan politik yang dinilai
menyengsarakan rakyat. Masalah-masalah itu dijabarkan dalam penindasan,
rasisme, kemiskinan, penjajahan, bias ideologi dsb
Teologi Pembebasan merupakan refleksi
bersama suatu komunitas terhadap suatu persoalan sosial. Karena itu masyarakat
terlibat dalam perenungan-perenungan keagamaan. Mereka mempertanyakan seperti
apa tanggung jawab agama dan apa yang harus dilakukan agama dalam konteks
pemiskinan struktural. Teologi pembebasan adalah gerakan yang mencoba memahami
isi Alkitab melalui sudut pandang orang miskin. Pengikut sejati Yesus, menurut
teologi pembebasan, harus memperjuangkan masyarakat yang adil; membawa
perubahan sosial-politik; dan mendukung kelas pekerja. Yesus sendiri, yang juga
hidup miskin selama di dunia, berfokus melayani orang miskin dan susah. Karena
itu, Gereja sejati seharusnya mendukung orang-orang yang termarginalisasi
ataupun teraniaya. Semua doktrin Gereja seharusnya lahir dari perspektif orang
miskin. Membela hak-hak orang miskin dianggap inti dari pemberitaan Injil.
Sekejap
Mata mengenai Amerika Latin
Amerika Latin (bahasa Portugis dan bahasa
Spanyol: América Latina; bahasa Perancis: Amérique Latine) adalah sebutan untuk
wilayah benua Amerika yang sebagian besar penduduknya merupakan penutur asli
bahasa-bahasa Roman (terutama bahasa Spanyol dan bahasa Portugis) yang berasal
dari bahasa Latin. Istilah Amerika Latin dipakai untuk membedakan wilayah ini
dengan wilayah Anglo-Amerika yang terkadang dipakai untuk menyebut wilayah
benua Amerika dengan mayoritas penduduk adalah penutur asli bahasa Inggris. Dalam
pengertian sempit, Amerika Latin merujuk kepada negara dan teritori di benua
Amerika yang penduduknya adalah penutur asli bahasa Roman (bahasa yang berasal
dari bahasa Latin), seperti: bahasa Spanyol, Portugis, Perancis, dan
bahasa-bahasa Kreol yang didasarkan darinya. Menurut definisi ini, Amerika
Latin juga mencakup teritori dan bekas teritori Perancis, yaitu Quebec di
Kanada, Haiti, Martinique, dan Guadeloupe di Karibia, serta Guyana Perancis di
Amerika Selatan.
Teologi
Pembebasan di Amerika Latin
Gustavo Gutierrez yang merupakan pelopor dan pencetus
dasar pemikiran Teologi Pembebasan.
Meskipun bermunculan juga teologi yang lain, tetapi dapat dikatakan
bahwa Gutierrez lah pelopor dan pencetus utamanya. Gustavo Gutierrez dilahirkan
di Lima, Peru, pada tahun 1928, sebagai
seorang messtizo, yakni seorang
keturunan Indian Amerika Latin, yang dianggap sebagai kalangan orang yang
tertindas di Bangsanya. Setelah Ia mendapatkan gelar Ph.D pada tahun 1959 dalam
bidang teologi dan diangkat menjadi imam untuk melayani rakyat Peru. Akan
tetapi setelah beberapa lama melayani Ia melihat bahwa teori yang digunakan
gereja kurang bisa beradaptasi dengan kondisi rakyat Peru, sehingga memerlukan
rombakan.
Menurut Gutierrez sendiri, istilah “Teologi
Pembebasan” lahir di Chimbote, Peru, pada bulan Juli 1968, hanya beberapa bulan
sebelum diadakannya konferensi para uskup Amerika Latin di Medellin,
Colombia. Konferensi ini kelak menjadi
titik tolak munculnya kesadaran dan keterlibatan gereja atas realitas
kemiskinan dan penindasan di Amerika Latin.
Pokok-pokok inti
Teologi Pembebasan di Amerika Latin
A.
Kedosaan Manusia
Masyarakat di Amerika Latin sejak
datangnya Colombus di Kepuluan st Indies samapai zaman ini selalalu terbagai
atas dua strata global. Golongan penindas dan golongan tertindas. Golongan
penindas adalah para tuan tanaha, industrialis, perwira tingi militer,
intelektual-teknorat yang semuanya bekerja sama dengan kapitalis Amerika Utara
dan Eropa yang umunya mendapatkan dukungan dari pemerintahan mereka
masing-masing. Golongan tertindas adalah petani tak bertanah, buruh perkebunan,
buruh pabrik, para aktivis mahasiswa dan golongan muda, para aktivis dari kalangan
klerus, para aktivis awan, para gerilyawan, penghuni perkampungan yang miskin
dan kotor, dan orang-orang Indian di pedalaman di cekungan Amazona. Dengan latar belakang kelas tertindas,
penindasan di Amerika Latin telah menjelma menjadi “kekerasan yang sudah
melembaga”. Bagi Puebla, “kekerasan yang sudah melembaga” berupa berhala
kekayaan material yang berakar pada mekanisme cinta materi dan melembaga dalam
bentuk sistem baik Kapitalisme Liberal maupun Kolektivitas Marxis. Keduanya
menjadikan manusia menusia budak dari ambisi kekayaan, kuasa, pengagungan
kepentingan umum negara, seks, dan kenikmatan duniawi; atau menggerogoti
kepenuhan manusia dan hubungan manusia dengan Tuhan Allah. Galau kecemasan
manusia dan runyamnya sistem sosial, ekonomi, politik, dan tataran nilai,
itulah yang melahirkansituasi kedosaan di Amerika Latin.
Kedosaan manusia menurut Gutierrez adalah
kedosaan yang tidak hanya berakar dalam hati manusia sebagai pribadi melainkan
(terlebih untuk zaman sekarang ini), berakar pada struktur sosial, ekonomi,
politik, budaya, dan keagamaan yang memeras dan menindas benyak orang miskin
demi keuntungan sekelompok kecil masyarakat. Menurut Gutierrez, secara
alkitabiah kemiskinana telah menjadi skandal bagi harkat kelayakan manusia dan
dengan demikian melawan kehendak Tuhan. Manusia diciptakan menurut citra Allah,
untuk menguasai dan menggunakan bumi seisinya untuk mengangkat harkat
kemanusiannya, dan dengan demikian memuliakan Allah. Kemiskinan bukan nasib
yang harus diterima dan dengan sendirinya
merupakan kesalehan. Kemiskinan adalah akibat dari struktur
“pembangunan” yang tidak adil. Kemiskinan adalah keadaan kurangnya sarana hidup
layak bagi kemanusiaan yang mungkin diubah, dapat diubah dan harus diubah.
Menurut Gutierrez, proses pembebasan menuntut peran aktif dari mereka yang
tertindas. Tetapi bahwa perjuangan untuk mentransformasi struktur yang tidak
adil akan melibatka penggunaan kekerasan, Gutierrez tidak dapat memutuskannya.
B.
Kerajaan Allah
Pokok pewartaan Injil, pewartaan Yesus
Kristus bukan dirinya sendiri, bukan Gereja, bahkan bukan pula sekedar tentang
Allah, melainkan tentang kerajaan Allah. “Kerajaan Allah” menyatakan bentuk
realisasi dari sebuah utopia yang intim di hati manusia. Menurut Sobrino,
pengalaman Israel sebagai bangsa yang tertindas dan penuh derita, membuat
mereka tumbuh dan bertahan oleh harapan, eskhaton, bahwa Yahweh pasti akan
turun tangan, Israel tak akan dibiarkan binasa. Pembebasan tuntas diharapakan
Israel. Kerajaan Mesias menjadi harapan baru. D alam
perjanjian baru, tanda-tanda dan pengampuna dosa ayng dilakukan oleh Yesus
Kristus adalah tanda kedekatan Kerajaan Allah. Tanda-tanda pembebasan yang
menjelaskan pribadi dan maksud kedatangan Yesus. Namun Kerajaan Allah menuntut
pertobatan dari setiap insan. Maksudnya setiap insan dituntut untuk mengubah
cara berpikir dan bertindak (Boff) atau cara beradanya (Sobrino). Boff mengerti
kedoasaan manusia itu sebagai hilangnya keputraan Allah karena dibelenggu
manusia oleh hukum kekuasaan yang menindas. Boff lebih menekankan hubungan
intim Allah-manusia. Sedangkan Sobrino mengerti kedosaan manusia sebagai
penolakan manusia secara individual dan kolektif terhadap kerajaan Allah.
Sobrino menekankan misteri kedosaan yang menyelimuti hubungan Allah dan
manusia.
Kerajaan Allah yang diwatakan Kristus
Yesus tidak berhenti di dunia ini, melainkan menguak masa depan melalui krisis
salib. Itu mempunya dimensi eskhatologis dengan Yesus yang mencapai puncak
kepercayaan dan ketaatan pada Bapa dalam salib, dan telah dibangkitkan oleh
Bapa. Dimensi eskhatologis ini tidak luput bahkan menjadi sesuatu yang penting,
dari perhatia Gutierrez dalam merumuskan transformasi pembebesan keluar dari
cengkeraman kedosaan manusia yang struktural. Transformasi pribadi dan kolektif
itu harus mengantar bangsa manusia pada Kerajaan Allah yang menawarkan:
·
Pembebasan dari
belenggu kekerasan ekonomi, sosial dan politik.
·
Pemebebasan yang
menciptakan solidaritas antarmanusia.
·
Pembebasan dari
dosa yang mempersatukan kembali hubungan manusia-Tuhan yang rusak.
Menurut Freire (1072), utopia bagaikan
pedang bermata dua via-a-vis sejarah.
Sekaligus gugatan terhadap struktur yang akan datang. Memang utopia acapkali
mendapatkan arti yang bersifat harapan kosong yang baik untuk diangankan tetapi
mustahil untuk dilaksanakan. Sebagai gugatan, utopia mengajak orang untuk
melaksanakan diri dalam aksi politik untuk mengubah sistem sosial, ekonomi dan
politik yang membelenggu manusia guna merealisasikan humanitas. Di pihak lain,
utopia membuat orang bergembira mengharapkan terpenuhnya Kerajaan Allah kendati
harus berjuan melalui krisis sejarah manusia yang tidak lepas dari cengekeraman
dosa.
C.
Yesus Kristus Sang
Pembebas
Menurut Gutierrez ada kecenderungan untuk
menjadikan Yesus sebagai icon. Konsep-konsep abstrak teologis telah
menggantikan pengalaman kesejarahan tentang Yesus manusia Yahudi dari Nazareth.
Dan Yesus Kristus yang dari Nazareth adalah pengejawantahan utuh dari Tuhan
Allah, Sang Cinta.
Yesus sebagai Kristus adalah Yesus yang
kita imani bukan terutama karena tindakan dan hikmahnya melainkan karena Ia seorang
pribadi. Ia yang membawa kabar gembira kepada orang miskin, dan mewartakan
pembebasan bagi mereka yang terbelenggu yang dengan berani menghadapi serangan
para tua-tua bangsa dan para wali kekuasaan penjajah bangsa asing. Yesus
sebagai Sang Pembebas adalah Tuhan yang menjadi miskin sehabis-habisnya, sampai
dalam kematian di salib. Yesus yang mewartakan Kerajaan Allah, kerajaan cinta
dan persaudaraan, pembebasan dan keadilan sebagaimana terungkap dalam Lukas
4:16-30 adalah kerajaan yang menimbulkan
kegemparan dan kemarahan bengsa terpilih. Kerajaan yang ditawarkan Yesus tidak
sesuai dengan impian mereka, terlalu tinggi tuntutannya dari apa yang menjadi
kesukaan para pemimpin bangsa dan penguasa. Dalam kerajaan itu Yesus sebagai
pembebas berpihak dan mengidentifikasikan diri serta solider dengan mereka yang
miskin dan tertindas, sebagaimana dituturkan dalam Filipi 2. Pilihan Yesus yang
seperti itu merupakan bahaya yang merongrong kedudukan dan kenyamanan para
pemimpin bangsa ha0tserta pengusaha-pengusaha yang ada. Penderitaan adalah cara
berada Tuhan dalam solidaritas dengan manusia. Dengan itu Tuhan adalah cinta.
Tanpa mampu menderita, Tuhan tidak mempu mencinta. Derita Tuhan yang total itu menjadi nyata
dalam puncak kematian Yesus di kayu salib.
D.
Gereja Rakyat
Gereja di Amerika Latin adalah gereja yang
menderita, gereja yang mengalami kematian karena diunuh oleh sistem yang
menindas dan mempraktekkan kekerasan yang melembaga. Namun, gereja di Amerika
latin adalah gereja yang berharap, yang berkerinduan untuk terbebas secara utuh
dan menyeluruh. Pembebasan dari belenggu tatanan sosial, ekonomi dan politik
yang menindas dari perhambaan manusia yang semena-mena dan dari pengingkaran
terhadapa Tuhan Allah dan pendewaan pada tuhan-tuhan lain. Gereja Amerika Latin adalah gereja yang merindukan
kebangkitan. Kristus yang menghambakan diri-Nya sampai pada kematian dan
dibangkitkan oleh Bapa adalah tumpuan harapan dan model Gereja Amerika Latin.
Oleh karena itu Gereja Amerika Latin bukanlah sekedar Gereja untuk orang
miskin, tetapi terlebih Gereja yang miskin. Dalam berekklesiologi Gutierrez
mengalami perkembangan yang amat jelas. Pada dasarnya sebagaimana ditegaskannya
sendiri ekklesiologi Guttierez adalah ekklesiologi gereja purba yang sangat
berhubungan dekat dengan ekklesiologi sakramen. Ekklesiologi Gutierrez awalnya
berorientasi dari atas dan telah ditinggalkan dan diganti pada orientasi dari
bawah. Berorientasi dari bawah bukan bertolak dari usulan dasar yang ditarik
dari tradisi Gereja Purba, tetapi bertolak dari sejarah iman bangsa manusia
yang dimulai dalam Injil sampai kini hidup diantar asuka dan duka rakyat miskin
di Amerika Latin. Gereja yang dikemukakan oleh Gutierrez dengan cara
interpretasi dari bawah adalag Gereja rakyat. Maksudnya Gereja yang
anggota-anggotanya terdiri dari mereka yang miskin yang berada dipinggiran
hidup. Dengan itu mereka yang tertindas dan miskin mulai membangun komunitas
ekklesianya sendiri. Gereja rakyat berperan dalam mendukung para anggotanya
untuk tidak lelah-lelahnya berharap, berjuang untuk pembebasan.
E.
Eksegese dan
Ekaristi
Pada pembukaan kuliah di Departemen
Teologi Universitas Khatolik Lima pada tahun 1975, Gutierrez mengatakan bahwa orang
mengerti Injil secara kurus hanya sebagai sabda dari Allah. Padahal Injil dapat
dimengerti juga sebagai sejarah iman bangsa manusia. Tentang konsep Injil
sebagai sabda Allah orang, khususnya para ahli kitab suci, cenderung menelaanya
dari segi kebahsaan dan pesan wartanya. Lain dengan pendekatan Injil sebagai
sejarah iman, pendekatan yang radikal, interpretasi Injil adalah interpretasi
kontekstual, interpretasi yang bertolak dari situasi kesejarahan orang beriman.
Dapat dimaklumi kalau Gutierrez akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa Injil
adalah sejarah yang terbuka. Bukan sejarah iman yang terhenti pada peristiwa
pembebasan Mesir, tetapi sejarah iman yang berlangsung sampai zaman sekarang. Menurut
Gutierrez dalam komunitas persaudaraan bersama dalam nama Kristus, Ekaristi
adalah perayaan syukur atas salib dan kebangkitan Kristus perpindahan dari
kematian kekehidupan, dan perpindahan kita dari kedosaan ke keadaan berahmat. Ekaristi
bertujuan untuk membangun persaudaraan antara manusia. Menurut Gutierrez di Amerika Latin,
persaudaraan yang berpusat pada ekaristi itu berarti menerima arti hidup yang
telah dianugerahkan Bapa atas kematian Yesus yang disalib sebagai cinta pada
sesama. Ekaristi bukan sekedar peringatan melainkan juga sebagai pembebasan
bahwa dalam Gereja miskin di Amerika Latin permecahan sabda dan roti bertolak
dari konteks kematian atau padang pasir sebuah bangsa, yang telah menjadi
sumber harapan dan persaudaraan umat, dan juga sumber inspirasi bagi para
Teolog Pembebasan.
F.
Kemiskinan
Kristiani Sebagai Langkah Pastoral
Para
teolog pembebasan tidak pernah secara spesifik merekomendasikan bentuk-bentuk
karya pastoral tertentu. Bermacam-macam bentuk karya pastoral untuk pembebasan
dapat disimak kembali ketika masalah kemiskinan dan penindasan struktural
menjadi soal praksis Gereja di Amerika Latin. Juan Luis Segundo seorang imam
yang menangani karya pastoral mengklasifikasikannya kedalam dua macam karya. Pertama orang banyak menghafal dan
membacakan begitu saja pelajaran agama dan khotbah dalam misa. Kedua yang kreatif membutuhkan banyak
pengorbanan untuk memilih bukan karya yang sudah bersifat birokrasi, melainkan
berani mulai dengan yang lebih mendesak dan berdampak besar. Segundo melihat adanya tiga halangan berupa
ketakutan bagi orang untuk masuk ke dalam komitmen pastoral kreatif. Pertama, ketakutan kepada diri sendiri. Kedua, ketakutan kepada terbelangkainya
keselamatan massa. Ketiga, ketakutan
pada konsekuensi Injil. Baik Galilea maupun Gutierrez memahami kemiskinan suka
rela sebagai perwujudan pastoral “mengikuti Yesus”. Yesus yang walaupun putera
Bapa merendahkan diri-Nya menjadi sesama bagi manusia yang tercabik oleh
keadaan dosa. Karena solider dengan manusia, Ia menanggung akibat dosa yang
terakhir yakni maut. Namun Ia dibangkitkan oleh Bapa menjadi tindakan
“mengikuti Yesus” dalam “kematian di Amerika Latin” penuh harapan akan
kebangkitan.
Menurut Gutierrez interpretasi kemiskinan
yang paling handal adalah interpretasi biblis. Kemiskinan biblis adalah
kemiskinan yang kristiani yang terbagi atas kemiskinan material, kemiskinan
spiritual dan kemiskinan suka rela. Dengan diajukannya kemiskinan suka rela,
maka kemiskinan material menjadi tumpahan tindak amal yang mempertahankan
struktur yang tidak adil. Tetapi dengan diperkenalkannya kemiskinan suka rela,
kemiskinan spiritual ditarik dari bahaya
spiritulisme. Kemiskinan materil tidak menjadi idealisme, tetapi yang menjadi
idealisme hidup adalah pembebasan dari kecenderungan riba dan tamak, yang
merupakan akar kedosaan manusia. Kemiskinan suka rela adalah alat, dan bukan
tujuan untuk melawan akar kedosaan struktural yang menindas. Seperti halnya di
Amerika Latin kemiskinan tidak sekedar masalah tata politik, melainkan
persoalan kemiskinan sudah menjadi masalah hidup dan mati. Gutierrez mencoba
mendekati dari sisi spiritualitas untuk melepaskan benang kusut, dengan
menggantungkan diri sepenuhnya kepada Tuhan yang merupakan kekuatan orang
miskin. Spiritualitas merupakan tempat rendez-vous
antara Tuhan dan manusia dalam sejarah manusia yang sekaligus menjadi
tumpuhan sejarah keselamatan yang dapat menghidupkan kemiskinan kristiani, dan
dilukiskan dalam empat pokok spiritualitas yaitu cinta, kegembiraan, sujud yang dalam, dan dalam
persukutan-persaudaraan. Melalui cara ini Gutierrez jelas memperlihatkan
pengalamnya bersama Tuhan, sesama dan dirinya sendiri, dan di Amerika Latin
yang berada dalam situasi perjuangan rakyat untuk pembebasan utuh dan
menyeluruh.
Kepustakaan
Nitriprawira, F. Wahono. 1987. Teologi Pembebasan.. Jakarta: Pustaka
Sinar Harapan.
https://www.gotquestions.org/Indonesia/teologi-pembebasan.html, diakses tanggal 25 Mei 2018, pukul 15:57.
https://firdausgaffar.wordpress.com/2013/01/23/teologi-pembebasan-amerika-latin/. Diakses tangal 25 Mei 2018, pukul 15:55.
Comments
Post a Comment