Khotbah Roma 2 : 1-16
Tema “Allah Tidak Memandang Bulu”. Bukan bulu rambut ato bulu kaki, bulu babi dan juga bukan ikang babi isi di bulu. Tetapi “tidak memandang bulu” artinya Allah tidak membeda-bedakan. Dalam hal ini bagaimana Allah memberi hukuman kepada dosa yang kita lakukan. Allah melihat kita semua sama di mata-Nya.
· Aku dan kamu sama di mata Tuhan tak ada yang beda tak satupun beda aku dan kamu sama di mata Tuan karena Tuhan Yesus sayang kita semua. Yang gendut, yang kurus, yang tinggi, yang opendek, yang hitam, yang outih, yang lemah, yang kuat, semuanya, semuanyaaa disayang Tuhan. Karena aku dan kamu sama di mata Tuhan.
· Keadilan Allah terus berlaku. Kita dihentar untuk menerima itu. Kita diajar untuk terus membehani diri.
· Jemaat Roma terdiri yang dari orang-orang Yahudi dan non-Yahudi dan juga Kekristenan masih sedikit tetapi Terjadi perpecahan, ttg mana yang benar dan mana yang salah. Mana yang suci dan mana yang najis. Bayangkan jemaat pe kecil kong so baku picah.
· Dari kesaksian Kisah Para Rasul 18 : 1-2 kita mengetahui bahwa jemaat Roma sudah ada sejak beberapa waktu. Jemaat ini beranggotakan pengikut Kristus Yahudi dan non-Yahudi. Pada suatu saat Kaisar Romawi Klaudius mengusir orang-orang Kristen yahudi dari roma. Sekitar 5 tahun kemudian, mereka diijinkan untuk kembali. Dan ketika mereka kembali mereka mendapati gereja telah menjadi sangat non Yahudi. Dan perdebatan mulai terjadi. Soal sunat, hari sabat, makanan halal, dan lain-lain.
· 1-3 : Manusia yang menghakimi orang lain. Menghakimi orang padahal diri sendiri memiliki dosa.
· Dan kalaupun orang itu memang nyata-nyata salah, Salah itu tidak memberikan hak kepada kita untuk melakukan apapun. Hanya karena kita benar bukan berarti kita bisa berbuat apa saja kepada yang salah karena itu melahirkan dendam.
· 4-5 : Allah itu murah dan Panjang sabar. Tetapi kekayaan kemurahan-Nya itu bermaksud menuntun kita dalam pertobatan. Jangan pandang enteng. Klr mengaku dosa, beking ulang. Itu sama deng da berdoa mar mo beking ulang.
· Bebas bukan untuk bebas melainkan untuk terikat, sungguh-sungguh terikat kepada Allah. Jika kita ingin bebas harus sungguh-suingguh terikat kepada Allah yang adalah pembebas. Beribadah kepada Allah berarti suatu perjalanan yang melintasi bentuk kehidupan.
· Kita dibebaskan untuk terikat dan kita diikat untuk terbebaskan. Maka dari pada itu, marilah kita mengikat diri untuk dibebaskan bersama-sama dengan Kristus.
· 6-11 : Allah tidak memandang bulu. Allah akan menghakimi orang yang berbuat dosa. Bukan manusia.
· Allah murka dan geram pada dosa. Pdt. Andreas Anangguru Yewangoe, seorang Pendeta dari Kupang, yang juga mantan Ketua PGI pernah berkata : “Bahwa seorang itu najis dan suci itu urusan Tuhan, kita datang di dunia ini hanya sebagai manusia biasa.”
· 3 tanggung jawab manusia:
Beranak Cucu
Taklukan bumi (beritakan Injil)
Berkuasa di bumi (bertanggung jawab)
· Kita dihadirkan di tengah-tengah dunia ini bukan untuk menjustifikasi orang, tetapi kita ditugaskan untuk melihat bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupan pribadi dan keluarga masing-masing kita. Kita tidak ditugaskan untuk menilai orang, tetapi kita dihentar untuk belajar dari kesalahan. Kita tidak diajarkan untuk bermegah diri, tetapi kita diajarkan untuk merendah diri. Kita tidak diajarkan untuk memaksakan kehendak, melainkan kita diajar untuk saling mendidik. Kita tidak diajar untuk menjadi tegar tengkuk, melainkan menjadi tegar mekar. Kita tidak diajar untuk menghakimi, melainkan kita diajar untuk saling membenahi. Kita tidak hanya diajar untuk mendengar, melainkan melukukan firman Allah.
· 12-16 : Hukum taurat menghentar orang menuju pada kebaikan. Tetapi, jikalau hanya mendengar tanpa melakukan, itu sama saja dengan berdosa. Hukum taurat bukan untuk dihafal dan hanya berada dalam pikiran, melainkan untuk ditunjukkan dalam kehidupan sehari-hari. Itulah pekabaran injil yang sesungguhnya.
· Beberapa hari yang lalu kita ada dalam perayaan HUT Pekabaran Injil dan Pendidikan Kristen ke-190. Kedatangan Johaan Friedrich Riedel, dan Johann Gotlieb Schwarz menjadi babak baru pekabaran Injil di tanah minahasa. Mereka tidak datang dan serta merta berkhobah secara verbal. Mereka terhalang oleh Bahasa dan berbagai masalah kultur. Mereka datang untuk membantu. Jelaskan dampak kepadaibu” di dapur. Kukis apang dan kukis cucur. Itulah pekabaran injil. Mengabarkan injil nda harus ba toki di setiap rumah kong bilang ini bilang itu. Cara hidup kesaharian kita adalah juga car akita memberitakan injil Kristus.
· Kita belajar untuk terus hidup dalam pengenalan akan Kristus Yesus.
· 1948, Dewan Gereja Dunia mengadakan Sidang Raya di Amsterdam. Saat itu pesan yang diutarakan yakni, “We Intend to Stay Togather” (kami bermaksud berdiam bersama). Di Busan, Korea 65 tahun setelah itu, pesan Sidang Raya menegaskan sebuah komitmen baru, yakni “Join the Pilgrimage of Justice and Peace”, komitmen yang menyatakan untuk bergerak bersama dalam sebuah peziarahan keadilan dan kedamaian. Lantas perlu adanya sebuah gerakan, sebuah tindakan untuk terus-menerus ada dalam embara. Sehingga kita akan terus menerus dibentuk sebagai satu insan yang bertobat.
· Selamat hari Ayah untuk semua. Allah adalah Ayah yang sungguh menyayangi anak-Nya. Ia, Ayah yang mau terus anak-Nya untuk terus hidup dalam terang. Sama seperti Allah di rumah, Ayah/Papa pun akan menghukum kita takkala kita berbuat dosa. Tetapi sama juga seperti Ayah, Allah tetap menyayangi anak-anak-Nya untuk selama-lamanya.
· 3 poin sebagi implementasi dari Roma 2 : 1-16 yang kita pelajari di saat ini.
Poin 1 : Kemurahan Tuhan berlaku kepada semua orang. Begitu pula penghukuman-Nya.
Poin 2 : adalah lebih bijaksana untuk melihat kedalam diri ketimbang menghakimi orang lain. Ada peribahasa “Semut di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tak tampak.” Bunda Theresa pernah berkata, “I you judge people, you have no time to love them.”
Poin 3 : Hormatilah yang lain.
· Tuhan Yesus memberkati kita semua. Semoga kita semua menjadi satu. Amin.
Comments
Post a Comment