Khotbah Titus 1:1-16


 

Khotbah Titus 1:1-16

Saudara-saudara..

Surat Titus ini sering disebut juga dengan surat Pastoral. Dimana, surat pastoral adalah surat penggembalaan, yang isi suratnya berisikan kata-kata penguatan kata-kata penghiburan dan juga berisikan anjuran-anjuran atau petunjuk-petunjuk hidup. Di perjanjian baru, surat-surat pastoral/penggembalaan antara lain ada surat 1 dan 2 Timotius. Pada pembaacaan kita ini, surat ini ditulis oleh Rasul Paulus yang ditujukan kepada Titus, anaknya yang sah dalam iman. Paulus menyebut Titus adsalah anaknya yang sah dalam iman, karena mereka berdua telah melakukan perjalanan penginjilan bersama-sama. 

Inilah yang mungkin menjadi salah satu alasan kenapa Paulus mengirim surat ini kepada Titus. layaknya seorang ayah yang ingin anaknya berhasil dalam pekerjaan/tugasnya, maka Rasul Paulus mengirimkan surat kepada anaknya Titus agar dia menjalankan tugasnya sbg seorang gembala untuk menggembalakan kawanan dombanya dengan baik.

Rasul Paulus melihat bahwa jemaat yang ada di Kreta ini sudah menyimpang dari ajaran yang pernah ia ajarkan kepada mereka, yaitu ajaran tentang Kristus. Jemaat di Kreta ini yang menjadi alamat surat ini sedang mengalami ancaman dari para pengjar sesat yang masuk kedalam lingkungan jemaat. Para pengajar ajaran sesat ini mengajarkan ajaran-ajaran yang bertentangan dengan ajaran Kristus, sehingga ini merupakan sebuah ancaman besar bagi jemaat Kristen yang sudah percaya pada Kristus. Karena bisa-bisa ajaran mereka akan melemahkan iman dari jemaat Kristus yang ada di Kreta. 

What was going on with Cretans ? 

Let’s start with the Greek mythology that shaped Cretan culture as it deviates from the well-known Olympian “seat of the transcendent gods” theology (featured in movies and Marvel/DC comics). Cretans believed Greek gods were mere men and women elevated to deities through benevolent service and gifts to mankind. It was a theology from below rather than above. They held that the majority of the gods were born on their island, including the chief “man-become-god,” Zeus, who was allegedly buried there. In their minds, Crete was the central place of the worship of the gods.

That was a big problem for the Christian community and faithfulness. Inilah tantangan bagi Paulus dan Gereje Tuhan. Aware of the context, Paul set out to refute the idea that the Christian God was cast in the image of Zeus. He wanted to make it crystal clear that the God revealed in Jesus is totally different from Zeus. 

Paul subverts the Cretan “man-become-god” theology by offering a profound “God-become-man” Christology. He intentionally collides with this cultural myth by insisting that Jesus appeared among humans from above not below. It’s a top-down Christology (much like the Gospel of John) insisting on Jesus’ deity. Sama seperti Yohanes yang menggambarkan Firman yang berinkarnasi menjadi Yesus, juga kepada kitab Filipi Paulus menulis tentang bagaimana Tuhan mengosongkan dirinya dan menjadi manusia (teologi kenosis). 

God wasn’t cast in the image of Zeus, but the Cretans certainly were! The people were such a lying, self-indulgent, sexually promiscuous bunch that Crete became proverbial for immorality in the ancient world. To be a “kretizo,” a Cretan, was to be a liar. (So the next time someone’s lying to you, just tell them to stop “cretanizing”). On top of that, their men, known for violence, often served as mercenary soldiers to the highest bidder while their women epitomized something called “the new Roman woman.” These wealthy “emancipated” women enjoyed a greater deal of privileges than their Greek counterparts. 

Oleh karena situasi ini, Rasul Paulus mengirim surat pada Titus, agar Titus harus menjadi contoh, menjadi teladan bagi orang-orang Kristen disana, termasuk mengajak para pemimpin jemaat yang ada disana yatu para penilik jemaat, para penatua, para diaken agar mereka juga bisa jadi contoh dan teladan yang baik bagi jemaat yang mereka layani. Mengapa begitu? Because Paul believes, if church leaders have strong faith, and if their attitudes and actions are good and worthy to be used as examples and applications, the congregations they serve will not be easily provoked by other teachings outside the teachings of Christ.

Saudara-saudara..

Bacaan kita saat ini mengangkat tema Keteladanan dan Kompetensi Pelayan Tuhan. ini berbicara tentang peranan seorang pelayan sebagai pemberi teladan bagi jemaat yang dipimpin. Rasul Paulus melalui surat Titus ini mengingatkan kepada para pelayan Tuhan agar supaya mereka bisa menunjukkan keteladanan sbg seorang pelayan Tuhan, yang meneladani Yesus Kristus sbg gembala agung sang pemilik pelayanan ini. dan keteladanan sbg seorang pelayan Tuhan dimulai dari keluarganya dari bagaimana ia memimpin keluarganya. Orang-orang yang tak bercacat, mempunyai hanya satu isteri, anak-anaknya hidup beriman agar ia tidak dapat dituduh. Hidup sebagai keluarga pelayan Tuhan, adalah kehidupan yang seperti berada di rumah kaca. Depan belakang atas bawah kiri kanan torang nda dapa sambunyi. Maka keteladanan harus dimulai dari keluarga. Bagaimana ia dapat memimpin jemaat Allah, kalau keluarganya tidak dapat ia pimpin. Inilah yang Rasul paulus maksudkan. Maka selain tugas kita memimpin jemaat Allah, kita pun harus mampu memimpin keluarga kita agar kita dan keluarga kita dapat diteladani.

Selanjutnya, ayat 7-9. Sauadara-saudara, tidak dapat dipungkiri sbg pelayan Tuhan kita juga adalah manusia biasa yang tak jarang melakukan tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan jabatan kita sbg seorang pelayan. Namun, bukan berarti karna keterbatasan kita sbg manusia itu, kita tidak bisa menjadi teladan dan contoh yang baik bagi jemaat yang kita pimpin. Oleh karenanya, waktu dan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita ini harus kita gunakan dengan maksimal dengan semakin memperbaharui diri kita dari hari ke hari. Karena sekalipun Tuhan ingin mengubah diri kita, kalau kita yang tidak mau berubah maka semuanya akan menjadi tidak berguna.

Mungkin, ada diantara kita yang mau berkata bahwa perubahan itu berasal dari diri sendiri bukan pada orang lain meskipun dia anak kita, dia istri kita, dia suami kita dsb. Tapi inilah yang disebut tantangan dalam pelayanan. kita lakukan yang bisa kita lakukan, kita lakukan semampu kita, Tuhanlah yang akan menilai segala sesuatu yang kita lakukan, dan Tuhanlah yang akan melakukan bagianNya.

Saya ingin ayat 12 menjadi pokok perenungan kita!

One of the Cretans, a prophet of their own, said, “Cretans are always liars, evil beasts, lazy gluttons.”

 

The problem is, being a follower of Jesus means progressively transforming into his image, not the image of the “deity of the day.” But Paul gets a report that Cretan Christians were looking more like Zeus than Jesus. These leaders were themselves immersed in Cretan culture, thus endorsing the ethical values of Crete. Paul indicts these leaders by hijacking the saying of an ancient Cretan poet Epimenides, “Cretans are always liars, vicious beasts, and lazy gluttons” (see Titus 1:12). He says, “this testimony is true!” And it was their lying, bestial, gluttonous behavior that was trickling down into the DNA of Christian households and churches and making a total wreck of things.

Gereja tidak menyediakan penggung transformasi. Gereja tidak menjadi sarana keselamatan dan telah hancur total karena terpengaruh budaya Kreta. Inilah seruan inti dari berita Firman ini. Bahwa ada sebuah konsep kesungsangan, “the upside-down kingdom”. Kerajaan Allah yang diwartakan oleh Yesus Kristus itu ternyata menampilkan sebuah kenyataan yang berkebalikan dari kerajaan-kerajaan ataupun juga pengajaran-pengajran yang ada dalam dunia ini di sepanjang zaman, di sepanjang abad, di semua tempat. dan ketahuilah kita hidup dalam hal keduniawian itu ! Kita tentu ingat dengan ayat “Jika orang menapar pipi kananmu, berikanlah pipi kirimu”; “jika orang menyuruhmu berjalan 1 mil, berjalannya dengan ia sejauh 2 mil” (dengan segala konteks yang ada). Namun yang mau ditekankan ialah, Kristus sendiri menawarkan sebuah konteks yangb berkebalikan ! (Jesus hands the upside-down concept trough Kingdom of God). Contoh yang lain juga, Yesus pernah berkata dalam Lukas 14:11 “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan”. Bagi Yesus jalan untuk ialah turun ! berbeda dengan dunia, ada yang suka mo nae mar kase jatung orang laeng ! Itulah duniawi. Tapi Yesus menawakan sebuah kerajaan yang sungsang!

Sehingga dalam kerja pelayanan dalam gereja Tuhan semua orang tidak ada yang ditinggikan. Everybody as the part of congregation has a same status. Nah,  Apa yang disarankan seorang Paulus bagi Titus ? Ayat 5 Paulus menegaskan kepada Titus untuk “mengatur apa yang masih perlu diatur” ( put what remained into order ((esv)). Dalam bahasa Yunani dipakai kata “epiordothose” dari akar kata epi dan diorthama. Untuk mengatur sebagaiman mestinya ! Dan Paulus menyadari ini (ayat 7-8[JC1] ). Sehingga kita menjadi seorang pengatur rumah tangga yang baik (ayat 7). God wants us to be a good stewardship (household).

Bagi kita semua jemaat Tuhan diberikan kuasa/talenta untuk kita Kelola. So, that’s why God wants us to be a good steward. 

Titus needed to straighten out the Christians who were giving the gospel a bad reputation. Paul says gospel belief should result in a new kind of household where older men and women are models of integrity and self-control for the younger.

This, in turn, would result in a new kind of humanity proclaiming the goodness of the saving God and offer an alternative to the Cretan way of life. Paul uses a fascinating juxtaposition of Cretans versus Christians in Titus 1:12 to make his point: The Cretans are perpetual liars, evil beasts, and lazy gluttons, but Christians are to live in the world soberly (not as out of control gluttons), justly (not as violent beasts), and piously (not as unrighteous liars). Do you get it? Christians should live as the exact opposite of Cretans. They should be the ideal citizens—peaceable, just, generous, and obedient to authorities[JC2] .

 

Bagi kita semua, ada saatnya ketika kita susah tetapi kita harus berusaha mendoakan orang lain. Ada saatnya ketika kita lemah, justru kita harus menguatkan orang lain. Ada saatnya ketika kita terpuruk, justru kita harus memberitakan kesukacitaan kepada semua orang. The implication of this good news is that through the saving work of Jesus and the empowerment of the Spirit, people really can change. The Cretans could change then, and you can change today. You don’t have to remain stuck in the image of the false gods of the day, nor conform to the culture around you. Paul says the gospel is powerful enough to transform someone into a new creation who then becomes an agent of change within culture. Rayakanlah iman sebagi ucapan sykur kepada Tuhan. Jadilah teladan bagi banyak orang. Be a good steward as you carry out your wisdom and blessings. 


 [JC1]Kalo dalam Bahasa penelitian kualitatif dipakai istilah Das Solen, Das Sein. (Teori tidak sesuai dengan kenyataan)

 [JC2]Menjadi Pelayanan untuk melayani bukan untuk supaya dipuji

Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Buku Sejarah Pikiran & Praktek Pendidikan Agama Kristen - Robert Boehlke Ph.D

Khotbah mengenai 1 Petrus 3 : 13-22

Laporan PPL 2017 - Gereja Anglikan Batam, 'Church of The True Light