Cara Pandang Global Mengenai Ekologi
TUGAS
PENDIDIKAN AGAMA
CARA PANDANG GLOBAL MENGENAI KRISIS EKOLOGI
CARA PANDANG GLOBAL MENGENAI KRISIS EKOLOGI
DISUSUN OLEH :
JOSHUA UMBOH
YAYASAN Ds. A.Z..R WENAS
FAKULTAS TEOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TOMOHON
JOSHUA UMBOH
YAYASAN Ds. A.Z..R WENAS
FAKULTAS TEOLOGI
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA TOMOHON
2015
Kata Pengantar
Puji syukur di panjatkan
kepada Tuhan Yang Maha Esa karena Ia telah memampukan saya menyelesaikan
Makalah ini dengan judul “Cara Pandang Global Mengenai Krisis Ekologi”.
Tugas ini dibuat dalam rangka menyelesaikan tugas akhir
semester mata kuliah Pendidikan Agama,
Ucapan terima kasih juga
di alamatkan kepada dosen Ibu Pdt. Mariani Tampemawa M.Th yang membimbing saya
dalam penyusunan makalah ini.
Demikialah makalah ini
dibuat dengan sebaik-baiknya namun kami menyadari makalah ini jauh dari
kesempurnaan untuk itu saya sangat membutuhkan kritikan saran dan masukkan yang
bersifat membangun demi kesempurnaa makalah ini. Terima kasih Tuhan Yesus
Memberkati!
Tomohon, 7 Desember 2015
Penulis,
1. Eksistensi Agama
dalam Postmodern
Benarkah fungsi agama tinggal terbatas pada aktivitas revolusioner, tidak
efisien, dan fragmentaris saja? Adakah usaha-usaha pemimpin agama untuk
mengambil kembali control agama atas masyarakat seperti yang dimiliki sebelumya
pada era pramodern/pra-Pencerahan? Bagaimana merancang ulang analisis agama
terhadap realitas yang ada sekarang ini dengan menggunakan filsafat dan
sosiologi atau ilmu kemanusiaan lainnya? Seorang teolog bernama Harvey Cox
(1965) menggunakan teori-teori sosiologi perubahan untuk membuat kajian terhadap eksitensi agama.
Di era modern, masyarakat sebagai suatu komunitas
cenderung gampang rapuh. Kebebasan individual mencuat secara transparan. Dalam
konteks ini, hak individu untuk memilih system nilai yang ada, yang secara
subjektif bermakna, dapat diperoleh dan dipilih tanpa tekanan dari komunitas
itu sendiri. Ringkasnya, ada pergeseran fungsi agama dari masyarakat prmitif ke
masyarakat modern. Fungsi agama digeser dari satu-satunya nilai bermakna
menjadi salah satu nilai yang ditawarkan dalam system nilai social. Dalam
masyarakat primitive, agama memegang peranan penting, sedangkan dalam
masyarakat modern, agama hanyalah salah satu dari banyak nilai yang berlaku.
Nilai agama menjadi salah satu dari nilai-nilai yang ditawarkan pada masyarakat
modern.
Huntington (2002), yang mengkritik perdaban sesudah masa
era Perang Dingin, mengemukakan pendapat bahwa proses globalisasi merupakan
sesuatu yang tidak terhindarkan lagi, suatu proses yang sedang berlangsung yang
di dalamnya terjadi benturan-benturan peradaban yang menggunakan kekuasaan dan
kebudayaan akibat peran penting dari kelompok-kelompok yang terpinggirkan,
seperti masyarakat Timur pribumi, militansi agama, dan kekuasaan Cina.
Mengenai peranan agama dalam peradaban global sesudah
Perang Dingin, Huntington, yang meminjam istilah Kepel, mengklaim bahwa
progresivisme dan pernyataan modernis merupakan sesuatu yang tidak lagi
meyakinkan. Oleh karena itu. Ada kesalahan panduan modernisme untuk
memodernisasi agama. Di era pasca- Perang Dingin, orang mengagamakan
modernitas. Kegiatan-kegiatan intens dari golongan fundamentalis agama secara
meyakinkan mengisyarakatkan adanya kebangkitan agama dalam postmodernitas.
Dialog yang saling berhubungan dan bertanggung jawab di
antara Berbagai Agama
Paul Knitter (2002) mengatakan bahwa dalam era sekarang
ini perlu dibutuhkan adanya suatu dialog
antar agama yang membebaskan. Namun oleh para akademisi dan politisi,
istilah-istilah ini sudah berulang-ulang dipakai sehingga pengertiannya sudah
kabur, dan karena itu Paul sangat berhati-hati memakainya. Terlepas dari
penjelasan yang telah diberika, istilah ‘liberatif’ atau ‘pembebasan’ oleh
banyak kalangan dihubungkan terutama atau secara eksklusif dengan suatu teoogi
Amerika Latin yang didasarkan pada suatu teori ekonomi tertentu dan terbatas
pada reformasi social atau politik. Istilah ‘pluralistik’ kebanyakan mengacu
pada berbagai pendekatan terhadap agama-agama yang dianggap berbagai wadah
warna-warni yang setara sekaligus berbeda dari suatu pengalaman mistik yang
homogen.
Paul lebih senang menamakan pendekatan atau model yang ia
teliti dalam buku ini sebagai suatu dialog
yang korelasional dan bertanggung jawab secara global di antara berbagai
agama. Agar dialog korelasional itu dapat berlangsung, perjumpaan dialogis
dalam suatu komunitas yang egaliter, bukan hierarkis. Walaupun para peserta saling
mengemukakan pendapat serta kebenaran, tidak satu pun akan mengemukakannya dari
suatu posisi teologis yang mengklaim dominasi agamanya atas Yang Lain atau
Menghakimi yang Lain. Suatu dialog korelasional tidak bisa dilaksanakan kalau
satu agama mengklaim kekuasaan, atau superior dalam segala hal atau selalu yang
membuat norma terakhir yang menyingkirkan norma-norma lainnya.
1. Isu-isu praktis
tentang kepedulian terhadap ekologi/lingkungan
Tujuan bagian ini adalah untuk memberikan suatu gambaran
yang jelas tentang luasnya krisis ekologis, dengan menyoroti beberapa contoh
konkret yang bersifat global. Kadang-kadang dalam menguraikan etika Kristen ada godaan untuk
membuat pernyataan-pernyataan umum yang kurang memperhatikan kompleksnya
isu-isu yang sesungguhnya. Deane-Drummond (1996) berpendapat bahwa, kita perlu
menciptakan suatu keseimbangan antara pembicara yang melebih-lebihkan perusakan
menyeluruh dengan pretensi bahwa lebih banyak teknologi atau bahkan pertobatan
akan memecahkan semua persoalan kita. Satu dari aspek-aspek yang mengejutkan
tentang perubahan dalam sejarah kebudayaan akhir-akhir ini adalah tumbuhnya
kesadaran tentang keterkaitan antara isu-isu politis, ekonomi, social dan
lingkungan hidup. Negara-negara ‘maju’ mencakup 25% penduduk dunia, tetapi
mengkonsumsi 80% sumber-sumber dunia. Bumi sebagai suatu kesatuan mempunyai
kapasitas daya dukung yang terbatas. Apabila dikenakan kepada spesies manusia,
daya dukung bumi sebagai suatu kesatuan lebih sulit dirumuskan. Sementara
pertanian dan teknologi dapat menaikkan kapasitas daya dukung dengan
meningkatnya hasil panen, eksploitasimanusia atas tanah di banyak tempat
melampaui batas alam. Deane-Drummond mengatakan bahwa hal itu dapat
mengakibatkan ‘mangkuk-mangkuk debu, tanah-tanah tandus, banjir yang
menghancurkan dari bukit-bukit gundul, industri perikanan yang hancur,
kemunduran budaya-budaya kuno. Dalam
ekologi, daya dukung lingkungan menunjuk kepada jumlah maksimum tanaman atau
hewan yang didukung oleh wilayah yang khusus. Tanaman atau hewan itu bisa
berbentuk satu spesies atau seluruh komunitas. Ketika daya dukung lingkungan
terlampaui, sumber-sumber yang ada tidak cukup untuk memenuhi keberlanjutan
populasi, yang mungkin dikurangi dengan jalan berpindah, atau gagal berkembang
biak, atau mati yang disebabkan kelaparan atau penyakit.
2. Contoh-contoh tekanan lingkungan
Contoh-contoh yang
dikemukakan di bawah ini memaparkan contoh kecil dari keadaan kerusakan lingkungan
dewasa ini. Peta Lingkungan (The Atlas of
Environment) memberikan sumber materi tambahan tentang kerusakan lingkungan
di dalam bidang-bidang ini dan lainnya seperti pertumbuhan penduduk, pencemaran
atmosfer, kelangkaan, dan pencemaran air.
(a)
Punahnya Spesies
Akhir abad ini diperkirakan sejuta
jenis binatang, tumbuhan dan serangga terancam punah akibat kegiatan manusia.
Diperkirakan pada tahun 2050 setengah dari spesies yang ada aka hilang
selama-lamanya. Penurunan spesies yang mengerikan ini akan menyebabkan hilangnya
keanekaragaman hayati. Keadaan ini
juga merupakan kehilangan tragis potensi genetic dari planet bumi. Diperkirakan
bahwa antara 5-200 spesies hilang setiap hari. Beberapa spesies hanya ada di
lokasi tertentu dan bersifat endemic pada daerah tertentu di bola bumi ini.
Satu dari sebab utama kepunahan adalah hilangnya hunian liar karena pertanian, industry bahan bakar, dan kegiatan manusia lainnya. Wilayah yang paling kaya spesies di dunia adalah hutan hujan tropis. Menurut Peta Lingkungan yang diterbitkan tahun 1990, tersisa kurang lebih 50% hutan tropis yang asli, yakni 750 hingga 800 juta hektar dari keseluruhan hutan tropis yang diperkirakan 1,5 hingga 1,6 miliar hektar. Banyak spesies akan hilang sama sekali sebelum manfaatnya diselidiki. Sampai sekarang, hanya kurang sari 1% spesies tanaman di dunia yang sempat diselidiki manfaanya bagi manusia.
Suatu tantangan serius terhadap manusia adalah ketergantungan kita hanya pada tiga spesies yang menyediakan setengah dari makanan dunia yaitu gandum, beras dan jagung. Penyilangan dalam upaya meningkatkan hasil telah memberikan tanaman-tanaman ini polo genetic yang seragam yang dikenal sebagai monokultur.
Satu dari sebab utama kepunahan adalah hilangnya hunian liar karena pertanian, industry bahan bakar, dan kegiatan manusia lainnya. Wilayah yang paling kaya spesies di dunia adalah hutan hujan tropis. Menurut Peta Lingkungan yang diterbitkan tahun 1990, tersisa kurang lebih 50% hutan tropis yang asli, yakni 750 hingga 800 juta hektar dari keseluruhan hutan tropis yang diperkirakan 1,5 hingga 1,6 miliar hektar. Banyak spesies akan hilang sama sekali sebelum manfaatnya diselidiki. Sampai sekarang, hanya kurang sari 1% spesies tanaman di dunia yang sempat diselidiki manfaanya bagi manusia.
Suatu tantangan serius terhadap manusia adalah ketergantungan kita hanya pada tiga spesies yang menyediakan setengah dari makanan dunia yaitu gandum, beras dan jagung. Penyilangan dalam upaya meningkatkan hasil telah memberikan tanaman-tanaman ini polo genetic yang seragam yang dikenal sebagai monokultur.
(b)
Kemerosotan tanah
Kemerosotan tanah,
yang Paul tekankan dalam studi kasus di atas, juga mempengaruhi semua
bagian planet bumi. Sebanyak 35 %dari permukaan bumi kemungkinan besar akan
menjelma menjadi padang pasir yang potensial mendukung kehidupan yang terbatas
pada spesies padang pasir. Manusia menciptakan padang pasir sejak permulaan
pertanian menetap 10.000 tahun lalu.
(c) Penipisan Sumber-sumber Energi
Pemakaian energy komersial secara global meningkat 2-3%
setiap tahun. Maksudnya ialah penggunaan
sumber-sumber energi yang diperdagangkan oleh masyarakat industry
seperti listrik. Menurut perkiraan terbaru dalam Peta Lingkungan, bahan bakar minyak menyediakan kira-kira seperti
separuh dari energi dunia, batu bara sepertiga, dan seperlima berupa gas alam.
Suatu akibat tidak langsung dari produksi energi adalah pencemaran dan risiko kesehatan.
Eropa timur menderita karena kualitas airyang sengat buruk dalam dunia
industry.
(d) Perubahan Cuaca
Para ilmuwan sekarang ini bersepakat bahwa efek rumah
kaca (ERK) mengakibatkan perubahan ikilm yang paling besar dan paling cepat
terjadi dalam sejarah peradaban. Karbon dioksida dan gas-gas lainnya di
atmosfer bekerja seperti kaca dalam rumah kaca, membiarkan matahari tembus,
tetapi memerangkap sebagian panas yang seharusnya dipancarkan kembali ke ruang
angkasa. Jika iklim di dunia semakin panas, hujan jatuh pada waktu yang berbeda
dan di tempat yang berbeda, sehingga mengganggu produksi hasil pertanian. Perkiraan kenaikan 3˚C setiap
dasawarsa menyebabkan hasil panen lebih rendah di negara penghasil padi-padian
seperti Amerika Serikat, Cina dan negar-negara bekas Uni Soviet. Juga
mencairnya es abadi di kutub akan menaikkan permukaan laut dan membanjiri
dataran rendah di pesisir pantai.
3. Perubahan
Lingkungan dalam Masyarakat Setempat
Walaupun tindakan invidual tidak hanya mempunyai dampak
yang terbatas dalam mengubah arah seluruh kecenderungan, ada tanda bahwa
perubahan-perubahan besar dipupuk oleh individu maupun kelompok-kelompok kecil
yang bertanggung jawab terhadap apa yang telah dikenal sebagai hidup
“bekelanjutan”, yaitu hidup yang tidak mengambil melebihi sumber0sumber alam
yang tersedia. Di beberapa bagian India dan Pakistan, wanita Kristen memulai
apa yang dikenal sebagai gerakan “satu butir padi”. Gagasannya adalah setiap
keluarga menyisihkan satu butir padi setiap hari, sekalipun mereka sedang
mengalami kelaparan dan kesukaran. Biji padi yang dikumpul dalam dana koperasi
wanita. Akhirnya mereka bisa membeli tanah yang mereka garap bersama untuk
menanam tumbuhan padi tambahan.
Masyarakat Kristen yang berbeda di seluruh dunia sedang
berusaha menciptakan metode-metode
pertanian yang berkesinambungan. Ordo Benedictus, Fransiscus dan Trappis
memiliki suatu tradisi tentang kepekaan tinggi terhadap isu-isu ekologis dalam
praktik pertanian mereka. Dalam tahun 1990, Gereja Ortodoks memulai proyek
Ormylia yang mengembangkan pertanian organic dan mempraktekannya dalam daerah
yang telah dirusak oleh penggunaan pestisida buatan. Tanah tersebut dikuasai
oleh biara dan akan menjadi model pertanian di sekitarnya, menarik perhatian
lebih dari 10.000 pengunjung setahun. Komunitas Hutterit, Amish, dan Mennonite
mendasarkan gaya hidup mereka atas praktik-praktik pertanian tradisional dan
berkelanjutan. Pertanian skala kecil ini menolak penggunaan mesin-mesin berat
dan mengandalkan tenaga kuda dan tenaga manusia secara bergotong-royong.
Penutup
Kesimpulan
Di era modern,
masyarakat sebagai suatu komunitas cenderung gampang rapuh. Kebebasan
individual mencuat secara transparan. Dalam konteks ini, hak individu untuk
memilih system nilai yang ada, yang secara subjektif bermakna, dapat diperoleh
dan dipilih tanpa tekanan dari komunitas itu sendiri. Paul Knitter (2002)
mengatakan bahwa dalam era sekarang ini perlu dibutuhkan adanya suatu dialog antar agama yang membebaskan.
Namun oleh para akademisi dan politisi, istilah-istilah ini sudah
berulang-ulang dipakai sehingga pengertiannya sudah kabur, dan karena itu Paul
sangat berhati-hati memakainya. Walaupun tindakan invidual tidak hanya
mempunyai dampak yang terbatas dalam mengubah arah seluruh kecenderungan, ada
tanda bahwa perubahan-perubahan besar dipupuk oleh individu maupun
kelompok-kelompok kecil yang bertanggung jawab terhadap apa yang telah dikenal
sebagai hidup “bekelanjutan”, yaitu hidup yang tidak mengambil melebihi sumber-sumber alam yang tersedia.
Daftar Pustaka
Sumakul Dr. H.W.B . 2012. Postmodernitas :
Memaknai Masyarakat Plural Abad Ke-21. Jakarta. Libris.
Drummond Celia-Deane 2012. Teologi dan
Ekologi. Jakarta. Gunung Mulia.
Kniter F. Paul . 2012. Satu Bumi Banyak Agama.
Jakarta. Gunung Mulia.
Comments
Post a Comment