SIDANG RAYA PGI XVII, KAIN TENUNAN DAN CERITA SERIBU KUDA
Suasana dataran eksotik tanah sumba serta terik matahari menyambut ratusan peserta Sidang Raya yang berusaha terus menenun komitmen keesaan yang dibangun sejak 25 Mei 1950.
Alotnya percakapan dalam gedung Pdt. Hapu Mbay menghiasi jumpa oikoumenis yang diselenggarakan lima tahun sekali. Sungguh benar tenunan itu tidak mudah diselesaikan, tapi itu perlu!
Jumpa kita, adalah jumpa rasa, sampai jumpa rasa tak bernama tak pelak lalu lalang dalam setiap perjumpaan di tempat makan sampai tempat mengambil kopi tepat di depan gedungnya.
Hujan argumen menggemburu bak tapakan seribu kaki kuda menghentak gedung sidang. Ya, kuda. Bagi orang Sumba, kuda menjadi identitas kemegahan mereka, bukan ilusi yang sekedar mengharapkan intuisi bersifat asasi, tapi itu jati diri mereka.
Argumen, bagi peserta, adalah lantunan irama kaki kuda yang datang bergerombol seperti membabi buta tanah bahkan batu yang dilewatinya.
Biarlah kuda menenun kain itu, seakan jumpa kepentingan bersama sebagai Gereja Kristen Yang Esa.
Ini Oikoumeneku, ini rumahku. Getar Ut Omnes Unum Sint biarlah senantiasa menjadi percikan semangat ini. Ini bukan panggilan, tapi ini adalah kita, Oikoumene.
Rasaku, bak sebuah kolase bumantara yang menggemakan votum syukur pada Gusti Allah. Ku nikmati tenunan dan tapakan itu, ku nikmati tenunan dan tapakan itu.
Tertambat pada sumba hatiku ini. Ekstotiknya seindah tenunan kain.
Rimba susah dicari, tapi
Indah selamanya menggaung.
UT OMNES UNUM SINT!
Comments
Post a Comment