Khotbah 2 Tawarikh 34 : 1-7
Hubungan yang baik akan tercermin dalam tindakan. Begitu pun juga hubungan yang baik antara manusia dan Allah akan tercermin dalam dikap dan tingkah laku kita. Jika hubungan kita dengan Tuhan baik, maka hubungan kita dengan orang lain juga akan baik.
Pembacaan dalam minggu-minggu sebelumnya, menghantar kita untuk lebih dalam memahami bahwa dengan menjalin hubungan spiritualitas yang baik dengan Allah akan membuat kita dengan mudah mengetahui maksud dari Tuhan. Mordekhai dan Ester mencerminkan suatu keteguhan yang penuh dalam membela bangsanya. Nehemia mengajarkan bahwa dengan ketulusan menjalani tanggung jawab berdampak dalam penyertaan Tuhan, dari Yunus kita belajar bahwa kasih Tuhan yang luar biasa memampukkan kita untuk lebih memahami maksud Tuhan menempatkan kita di dunia ini. Dan Yosia adalah sebuah kritikan bagaimana sikap kita kepada Allah.
Kitab Tawarikh menyuguhkan laporan yang luar biasa mengenai perjanjian lama. Kitab ini dimulai dengan penyebutan tokoh-tokoh dalam perjanjian lama. Berlanjut pada kisah Daud dan Salomo. 2 Tawarikh dapat dikatakan sebagai sebuah rentetan kisah yang mencari sebuah akhir. Suatu harapan akan Mesias yang terwujud dalam diri Yesus Kristus.
Yosia sendiri adalah anak dari seorang raja yang dikenal jahat di mata Tuhan. Kakeknya, Manasye juga demikian. Tetapi Yosia tumbuh dengan didikan spiritualitas yang berasal dari ibunya, Yedida. Semasa hidup, kebobrokan iman dari Manasye, mertuanya dan Amon, suaminya, tidak menyurut Yedida untuk menempa Yosia dalam iman percaya kepada Allah Daud. Sehingga, Yosia tumbuh dengan perkenanan Allah. Saat Amon meninggal, secara langsung sesuai dengan kebiasaan yang ada, maka Yosia diangkat menjadi Raja di saat masih berumur delapan tahun. Usia yang sangat-sangat belia bagi seorang yang dipanggil Raja.
Di usia ke enam belas tahun, Yosia membulatkan tekad untuk lebih dalam mengenal dan membangun hubungan yang baik dengan Tuhan. Di usianya yang ke dua puluh tahun, Yosia membongkar dan meluluhlantakan kebobrokan yang diwarisi dari kakek dan ayahnya. Bahkan, pengaruh keberanian Yosia tidak hanya di Yehuda, melainkan sampai di Israel Utara, tepatnya di kota Manasye, Efraim dan Simeon, sampai di kota-kota Naftali. Pengaruh keberanian dari Yosia dimulai dari revolusi spiritualitas iman percaya orang Israel dengan Allah Abraham, Isakh dan Yakub.
Iman Yosia kepada Tuhan diselaraskan dengan keberanian dan pengorbanan. Kita harus berani dan berkorban untuk menegakkan iman kita kepada Allah. Kisah Yosia sebenarnya menampar sikap dan tingkah laku kita selama ini.
Saat kita melangkah, saat kita tidak dapat melihat jalan keluar, saat dimana kita menganggap kita ada dalam keterpurukan, saat seolah-olah kita tidak dapat melihat pertolongan Tuhan, maka disaat itulah yang harus kita lakukan adalah percaya dan menaruh harap kita kepada Tuhan.
Yosia memberikan gambaran, bahwa iman dan perbuatan yang berdasar pada Kristus memampukan kita untuk melukan segala sesuatu, terlebih untuk mampu lebih dalam memupuk harapan kita tentang hari esok. Kehidupan yang kita jalani kita hanya untuk kemuliaan nama Tuhan Allah. AMIN
Comments
Post a Comment