Khotbah 1 Tawarikh 21 : 1-17 'Pendaftaran dan Hukuman'
10 april tahun 1912,
sebuah kapal berlayar dari Southampton, Inggris menuju New York. Kapal yang
didaulat sebagai kapal paling mewah yang pernah dibangun oleh perusahaan
pembuatnya, White Star Line memuat 2216
penumpang. Kapal dilengkapi dengan berbagai fasilitas mewah. Para tamu bisa
bersantai di arena pemandian atau menghabiskan waktu dengan bermain tenis,
berenang dan berolahraga di gym. Kapal tersebut memang dibuat khusus atas dasar
kemewahan dan ukuran, bukan kecepatannya.Thomas Andrews, perancang kapal ini
berkata, ‘keamanan kapal ini sangat aman, bahkan Tuhan pun tidak mampu
menenggelamkannya,’ katanya. Naas, 4 Hari kemudian kapal ini menabrak gunung es
di samudera atlantik. Kita semua tahu bahwa ini adalah kisah dari kapal
titanic.
Daud memiliki pengaruh
yang sangat besar terhadap Israel, pemerintahannya total kepada seluruh bangsa
israel. Daud memerintah sebagai raja yang sangat luar biasa. Dia memiliki
kharisma, dia memiliki ketenangan dan berani. Sifat-sifatnya ini membawa bangsa
israel menuju masa-masa keemasan. Pada masa Daud, orang israel bahkan mampu
menang terhadap orang Filistin (1 Taw 18).
·
Kemenangan mereka terhadap Filistin,
·
Bangsa Moab,
·
Hadadezer
·
Aram
Bahkan dalam 1 Tawarikh
18:13c dikatakan, ‘Tuhan memberi kemenangan kepada Daud kemanapun ia pergi.’
Peperangan-peperangan
yang dijalani mampu mambawa dia dalam kemengangan-kemenangan. Israel menjadi
bangsa yang sangat ditakuti dan bangsa-bangsa lain tidak mau berurusan dengan
isael.
Serangkaian
kemenangan-kemenangan ini membuat dia terjebak dalam bujukan Iblis untuk
melakukan sensus terhadap semua orang israel. Apa yang salah? Keluaran 30:12
mencatat peristiwa tentang ketetapan untuk memberikan persembahan khusus kepada
Tuhan pada waktu pendaftaran orang israel. Persembahan yang diberikan itu
lambang bahwa mereka adalah milik Allah dan bukan milik Musa.
Daud didorong untuk
mengetahui seberapa besar kekuatan yang ia miliki. Sensus pun dilakukan dan ia
mendapati satu juta orang lebih rakyatnya mampu berperang. Cukup besar untuk
menghalau musuh. Daud ingin melihat seberapa kuat kekuatan militernya untuk
berperang. Tapi di titik ini, ia lupa bahwa kemenangan-kemenangan orang israel
bukan berasal dari jumlah tentara yang mereka miliki tetapi berasal dari kuasa
Allah.
Yoab tahu tahu yang
dilakukan oleh Daud itu salah. Yoab mengetahui bahwa Daud berusaha menghitung
jumlah bangsa israel untuk melihat seberapa besar kekuatan berperang bangsa
Israel.
Yoab mengetahui bahwa
raja Daud memiliki kekuatiran akan kekuatan pasukan yang dimilikinya dengan mengabaikan
pertolongan dari Tuhan. Hal ini membuat Yoab tampil untuk menyampaikan nasihat
kepada raja Daud, “... Mengapa tuanku menuntut hal ini? Mengapa orang Israel
harus menanggung kesalahan oleh karena hal itu?” (ay. 3). Allah melihat
tindakan Daud merupakan hal yang jahat, karena meragukan kuasa-Nya, ”Tetapi hal
itu jahat di mata Allah, sebab itu dihajar-Nya orang Israel” (ay. 7).
Tuhan memakai Gad untuk
menyampaikan bahwa Tuhan memperhadapkan 3 perkara untuk dipilih.
·
Tiga tahun kelaparan
·
Tiga bulan melarikan diri dari hadapan
musuh dan sementara itu dikejar oleh musuh-musuhnya
·
Tiga hari penyakit sampar
Pada akhirnya Daud pun menyesal atas perbuatan
sombong dan bodoh yang ia lakukan itu. Raja Daud menyadari bahwa perbuatan dosa
yang dilakukannya di hadapan Tuhan telah membuat kematian tujuh puluh ribu
orang Israel (ay. 8, 14 dan 17). Penyesalan yang tulus dari raja Daud membuat
Tuhan tidak lagi memusnahkan Yerusalem (ay. 15-16).
Tuhan memberikan kita
kuasa. Dan atas kuasa itu sekarang kita ada di tempat ini. Layaknya Daud, kuasa
yang diberikan Tuhan dapat membuat kita terlena dengan apa yang sudah ada pada
kita. Mari kita mempersempit bayangan kita terhadap kuasa seperti yang ada
dalam pembacaan tadi. Jangan sampai kita berpikir, ‘kita kan bukang raja, kita kan bukang pemimpin perusahaan, kita kan
bukang syamas, kita kan bukan pendeta, kita kan bukang penatua, nda ada kuasa
kua pa kita, asi kua nyaku cawana power, sey siaku karu eh’.
Pada saat kita
bernafas, pada saat kita diperkenankan Tuhan berada ditempat ini, duduk di
tempat ini, mengangkat pujian untuk Tuhan. Itu adalah kuasa! Kuasa bukan hanya
sekedar jabatan atau kedudukan, tetapi juga bagaimana kita meresponi apa yang
telah diberikan oleh Tuhan. Dalam etika dasar Kristen, mengapa kita perlu
mengasihi Allah? Karena Alllah lebih dahulu mengasihi kita.
Kepada kita, Allah mempercayakan
kuasa untuk bertindak, berpikir, berbicara. Tapi, apakah tindakan, cara
berpikir, dan ucapan kita merujuk pada apa yang diperkenankan Allah? Apakah
waktu yang Tuhan berikan sudah kita manfaatkan untuk kemuliaan nama-Nya?
Ada satu kisah, seorang
anak yang baru mau masuk kuliah, ketika itu ia mengikuti ospek atau masa
perkenalan. Dalam masa perkenalan itu, anak ini beserta sekitar 300 ratusan
mahasiswa baru diwajibkan membawa dan memakai peralatan-peralatan yang “tidak
wajar” seperti kaos kaki sepak bola yang berbeda warna, tas gantung dari karung
tepung, papan nama dari kardus dan pot bunga plastik yang dipakai layaknya
sebuah topi. Mereka tinggal di kampus selama lima hari selama masa perkenalan.
Satu saat, dihari ketiga masa perkenalan, 300-an mahasiwa baru serentak
dikumpulkan di lapangan pada pukul setengah 5 pagi. Waktu mereka bergegas
sangatlah mepet dan sangat buru-buru. Semua mahasiswa baru sibuk dengan
urusannya masing-masing. Anak ini juga mempersiapkan
perlengkapan-perlengkapannya. Saat ada dalam berisan, anak ini merasa bahwa
ternyata ada yang kurang dari perlengkapan yang ia bawa, ternyata pot bunga
yang dijadikan topi ketinggalan di ruang tidurnya.
Karena takut dimarahi,
ia memberanikan diri untuk keluar dari barisan, mengambil resiko, dan melawan
rasa kantuknya yang sangat berat. Ia bergerak cepat mengambil topinya dan
cepat-cepat kembali ke barisan. Hatinya sangat senang meskipun tidak ia
ekspresikan dalam raut mukanya. Anak itu sekarang berdiri di depan
saudara-saudara.
Bayangkan bahwa pot
bunga itu adalah kuasa yang diberikan oleh Tuhan. Sesuatu yang sangat berharga
sehingga kita berusaha dengan keras untuk memanfaatkan kuasa itu. Ada saat kita
harus keluar dari berisan dan mengambil resiko memperjuangkan kesempatan yang
Tuhan berikan. Ada saat kita harus melawan kantuk kita untuk bangun dan
menyadari bahwa kuasa yang diberikan oleh Tuhan harus dipakai untuk memuliakan
nama-Nya.
Daud sempat berada
dalam penyalahgunaan kekuasaan, ia memilih menyombongkan apa yang sudah ada
dalam bangsa Israel (ceritakan). Pun juga bagi seorang Thomas Andrews,
perancang kapal titanic (ceritakan). Siang ini dalam penghayatan minggu-minggu
sengsara, kita diajak untuk tidak serupa seperti pemerintahan Romawi dan
orang-orang Yahudi yang memanfaatkan kuasa mereka untuk membunuh Yesus. Ketika
tuntutan di depan Mahkamah Agama yakni ‘Yesus menghina Allah dengan mengatakan
bahwa ia Anak Allah’ tidak memiliki bukti yang banyak, maka dalam pengadilan
Romawi mereka menuduh bahwa Yesus melarang membayar pajak kepada kaisar dan
mengancam akan merobohkan Bait Suci.
Saudara pasti ingat,
peristiwa Yesus dielu-elukan di Yerusalem
Berilah diri kita untuk
dipakai oleh Tuhan. Kita gunakan kuasa yang telah dicurahkan kepada kita untuk
kemuliaan nama Tuhan. AMIN
Comments
Post a Comment