Merenta Cinta



Apa yang menjadi target utama dalam proses bercinta? Bukankah yang diutamakan seharusnya prosesnya? Menyoal target memanglah tidak salah. Menyoal masa lalu bukanlah hal yang harus dibesar-besarkan. Pada awalnya, cinta tidak berharap pada satu masa dimana memulainya saja hanya main-main. Tidak mengharapkan tujuan, bersenang-senang saja, pamer sana-sini. Kritikan sosial terhadap percintaan selektif memanglah menggugah sanubari. Sekala, kita harus memilih mana yang menjadi prioritas dan terkadang itu sakit. Mau dilihat dari pihak manapun tetaplah ada yang harus dikorbakan. Tapi, cinta tidak bekerja seperti itu kan? Maksud saya, bilamana ada yang harus merela, harusnya cinta bekerja pada saat itu pula.

Pesimis pada kerja cinta adalah saat dimana kita tidak mencintai. Berhenti saja menyebarkan cinta andaikata mau menyerah. Jangan membenci proses bercintanya. Proses itulah cinta. Sering mengumbar sebenarnya tidak memberikan pengaruh yang banyak. Percaya saja. Kalimat klise yang sebenarnya pada masa sekarang bukanlah jawaban, melainkan hanya sebagai penghangat hati semata. Toh pada akhirnya dingin lagi.

Putus cinta adalah hal yang sukar mengiang-ngiang bilamana dalam hubungan mau ada dalam keseriusan. Tapi, coba teliti lagi bukankah prosesnya itu cinta? Lalu bagaimana dengan ketidakcocokan atau alasan lain seperti susah berkomitmen dan atau terlalu kuat berkomitmen dengan masa lalu. Memanglah bukan soal besar apabila membicarakan mengenai masa lalu. Tugas kita hanya untuk saling membahagiakan. Itu saja.



Comments

Popular posts from this blog

Ringkasan Buku Sejarah Pikiran & Praktek Pendidikan Agama Kristen - Robert Boehlke Ph.D

Khotbah mengenai 1 Petrus 3 : 13-22

Laporan PPL 2017 - Gereja Anglikan Batam, 'Church of The True Light